Tantangan Menembus Alam: Ikhtiar Kabupaten Malang Merdeka dari Zona Buta Sinyal

Pemkab Malang berhasil mengurangi titik blankspot dari 100 menjadi 85 lokasi sepanjang awal tahun 2025 hingga 2026.

Wakos Reza Gautama
Kamis, 11 Juni 2026 | 07:29 WIB
Tantangan Menembus Alam: Ikhtiar Kabupaten Malang Merdeka dari Zona Buta Sinyal
Ilustrasi blank spot. Pemkab Malang berhasil mengurangi titik blankspot dari 100 menjadi 85 lokasi sepanjang awal tahun 2025 hingga 2026. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Pemkab Malang berhasil mengurangi titik blankspot dari 100 menjadi 85 lokasi sepanjang awal tahun 2025 hingga 2026.
  • Hambatan geografis berupa perbukitan di lereng gunung menyulitkan pembangunan menara telekomunikasi di sejumlah pelosok Kabupaten Malang.
  • Pemerintah daerah mengupayakan solusi pemancar alternatif dan mendukung inisiatif swadaya warga untuk mempercepat akses jaringan internet desa.

SuaraMalang.id - Memasuki tahun 2026, wajah digital Kabupaten Malang perlahan berubah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mencatat kemajuan signifikan dalam memangkas titik blankspot atau area tanpa sinyal. Pada awal 2025 tercatat ada sekitar 100 titik zona buta, kini angka tersebut menyusut menjadi 85 titik.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Malang, Atsalis Supriyanto, mengungkapkan bahwa musuh utama pemerataan akses ini adalah benteng alam.

"Misalnya di Tumpang, lokasinya mudah dijangkau. Namun begitu masuk ke sisi timur, dari Poncokusumo ke arah lereng Bromo, sinyal sulit masuk karena terhalang perbukitan," ujar Atsalis.

Hambatan geografis ini membuat beberapa wilayah seperti Desa Taji di Kecamatan Jabung hingga Desa Lebakharjo di pelosok Ampelgading masih harus bersabar menunggu giliran merdeka digital.

Baca Juga:Demi KDMP, 21 Lahan Hijau di Kota Malang Terancam Alih Fungsi

Daftar panjang desa yang masih terisolasi sinyal ini mencakup wilayah-wilayah di Malang Selatan hingga area lereng gunung yang rimbun.

Menghadapi biaya operasional pembangunan menara (tower) yang tinggi, pemerintah tak kehabisan akal. Koordinasi dengan perusahaan telekomunikasi kini diarahkan pada solusi alternatif.

Di wilayah dataran tinggi, penggunaan pemancar sinyal berukuran kecil mulai dijajaki sebagai pengganti tower raksasa yang sulit dibangun di medan miring.

Namun, yang paling mengesankan adalah gerakan dari akar rumput. Di tengah penantian akan tower resmi, warga desa di berbagai wilayah melakukan aksi swadaya. Mereka memasang perangkat internet portabel secara mandiri untuk memutus rantai isolasi informasi.

"Kalau tidak ada inisiatif seperti itu, pihak seluler mungkin masih berpikir dua kali untuk memasang tower karena khawatir jumlah pelanggan tidak sebanding dengan biaya operasionalnya," jelas Atsalis. (ANTARA)

Baca Juga:Berawal dari Curhat Talent di Medsos, YouTuber Gus Idris Jadi Tersangka Pelecehan Seksual

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini