- Hujan es melanda kawasan Jalan Sulfat, Kota Malang, pada Kamis siang, 9 April 2026, yang memicu kehebohan warga setempat.
- BPBD Kota Malang menyatakan fenomena tersebut merupakan peristiwa alamiah akibat kondisi atmosfer labil saat masa peralihan musim pancaroba.
- Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang ditandai perubahan suhu dingin serta hujan lebat disertai angin kencang.
SuaraMalang.id - Kamis siang (9/4/2026), kawasan Jalan Sulfat, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, awalnya hanya diselimuti mendung tebal yang lazim di musim peralihan.
Namun, sekitar pukul 13.00 WIB, suasana berubah mencekam bagi Pratama, seorang warga setempat. Bukan hanya suara air yang menghantam atap, melainkan bunyi berisik yang menyerupai jatuhnya ribuan kerikil.
"Sempat kaget dan panik. Ada bunyi benda jatuh, mirip kerikil. Pas saya lihat ke halaman, ternyata butiran es," kenang Pratama.
Fenomena itu berlangsung singkat, hanya sekitar lima menit, sebelum akhirnya kembali menjadi hujan air biasa. Kejadian yang sempat memicu kehebohan di media sosial ini segera mendapat respons dari otoritas terkait.
Baca Juga:Rey di Malang Akui Istri Sudah Tahu Dirinya Perempuan Sebelum Menikah, Kini Berujung Polisi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang bergerak cepat menenangkan warga agar tidak menafsirkan kejadian ini sebagai sesuatu yang mistis atau ekstrem tanpa penjelasan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah murni peristiwa alamiah yang kerap mengintai di masa peralihan musim atau pancaroba.
"Kondisi ini terjadi karena atmosfer kita sedang sangat labil. Dalam sistem cuaca tropis, hal ini wajar terjadi," ungkap Prayitno.
Berdasarkan data dari BMKG, hujan es di Indonesia memiliki 'identitas' yang khas. Durasinya singkat, antara 5 hingga 15 menit, dengan ukuran butiran yang bervariasi dari kecil hingga sedang.
Sebenarnya, alam telah memberikan "kode" sebelum butiran es itu jatuh ke bumi. Prayitno menyebutkan, salah satu tanda yang paling mencolok adalah perubahan suhu udara yang tiba-tiba menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.
Baca Juga:Tak Curiga Waktu Pacaran: Kisah Intan Perempuan Asal Malang Miliki Suami Seorang Wanita
Selain itu, hujan es hampir selalu datang "satu paket" dengan hujan lebat, angin kencang, dan sambaran petir.
BPBD menekankan pentingnya literasi cuaca bagi masyarakat agar tidak terjebak dalam kepanikan massal.
"Pemahaman yang baik mengenai mekanisme ilmiah ini penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan fenomena ini," tambahnya.
Meski secara ilmiah dapat dijelaskan, hujan es tetap membawa pesan kewaspadaan. Fenomena ini adalah alarm bahwa cuaca ekstrem bisa muncul sewaktu-waktu.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama saat berada di luar ruangan ketika awan hitam pekat mulai bergulung. (ANTARA)