![Bejo Sandy menunjukkan Rinding Malang karyanya. [SuaraMalang/Aziz]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/10/30/22216-bejo-sandy-menunjukkan-rinding-malang-karyanya.jpg)
Ia sangat bersyukur, lataran misi utama untuk membumikan Rinding kian terwujud. Niat itu muncul sekitar 10 tahun silam. Bermula dari kegelisahan dalam penggunaan musik sebagai pengiring pertunjukan teater.
“Jadi awalnya takut soal copyright hak cipta jika pakai musik orang lain. Kemudian mencari solusi, tapi yang tidak biasa. Teringat instrumen Karinding (instrumen musik dari bambu, khas Jawa Barat),” kenangnya.
Bejo memproduksi atau membuat Rinding mengutamakan prinsip daur ulang. Ia memanfaatkan bambu bekas baliho, hingga bekas konstruksi bangunan.
“Waktu ramai-ramainya pemilu, lumayan dapat banyak bambu untuk dimanfaatkan,” ujarnya.
Baca Juga:Meresahkan, Pria Ini Tiba-tiba Keluarkan 'Anunya' di Depan Penjaga Lapak Pasar Besar Malang
Kekinian, Rinding buatannya telah banyak dikenal. Bahkan ada warga Belanda yang pernah membeli. “Dibelinya 200 dolar,” ujarnya.
Namun, tujuan utamanya bukan ekonomi semata. Prioritasnya adalah pelestarian Rinding Malang. Setiap momentum sosialisasi, terutama kepada pelajar atau mahasiswa, Ia selalu membagikan Rinding secara cuma-cuma alias gratis.
Penguatan Literasi Rinding Malang
Perjumpaan dengan Angga Ridho Subangga, medio 2018, meneguhkannya untuk terus meneliti Rinding, khususnya khas Malang.
“Bersama Angga, kami bercita-cita untuk melakukan riset lebih dalam lagi dan mengarsipkan Rinding Malang,” katanya.
Baca Juga:Pergoki Selingkuh, Suami di Malang Bacok Istri dan Pria Idaman Lain
Angga menuturkan, berkat konsistensi mengenalkan Rinding Malang, kini telah mampu berbaur di berbagai lini. Tidak hanya seni musik, sastra dan pertunjukan. Instrumen unik ini juga pernah terlibat di industri fashion.