Sri Lanka memohon para donor swasta dari dalam dan luar negeri untuk ikut membantu, kata dia.
'Ketakutan Luar Biasa'
Para dokter mengaku mereka lebih khawatir daripada pasien dan kerabat mereka, sebab mereka tahu gentingnya kondisi dan konsekuensinya.
Merujuk pada antrean bensin dan gas elpiji, juru bicara Asosiasi Petugas Medis Pemerintah Dr Vasan Ratnasingam mengatakan konsekuensi bagi orang-orang yang menantikan pengobatan jauh lebih mengerikan.
Baca Juga:Bencana Kelaparan Mendekat, Sri Lanka Kesulitan Keluar dari Krisis
"Jika para pasien mengantre obat, mereka akan kehilangan nyawa," kata Ratnasingam.
Ibu dari Binuli Bimsara, pasien anak berusia 4 tahun yang mengidap leukimia, mengaku ia bersama sang suami merasa takut.
"Semula, kami punya asa sebab kami mendapatkan obat. Namun, kini hidup kami dibayangi ketakutan yang luar biasa," kata sang ibu.
"Kami sungguh tak berdaya, masa depan kami benar-benar suram ketika mendengar kelangkaan obat. Kami tak mempunyai uang banyak untuk membawa anak kami berobat ke luar negeri."
Otoritas India mengirim 25 ton pasokan medis bersama bantuan lain pada Minggu, kata pejabat.
Baca Juga:Krisis Pangan Bikin Warga Sri Lanka Makin Sengsara
"India belum pernah membantu negara lain sebanyak ini ... Ini sesuatu yang sangat kami syukuri," kata Menteri Luar Negeri Sri Lanka G.L. Peiris di pelabuhan Kolombo saat berdiri di dekat kapal pengangkut ribuan karung pasokan.