alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Begini Kondisi 8 Bendungan di Jatim Pasca Diguncang Gempa Blitar

Abdul Aziz Mahrizal Ramadan Selasa, 25 Mei 2021 | 12:09 WIB

Begini Kondisi 8 Bendungan di Jatim Pasca Diguncang Gempa Blitar
ilustrasi Gempa Blitar magnitudo 5,9. [Foto: Tangkapan Layar Twitter @DaryonoBMKG]

Dua bulan terakhir, tercatat ada tiga kali gempa dengan kekuatan di atas magnitudo 5 melanda wilayah Jawa Timur.

SuaraMalang.id - Perum Jasa Tirta (PJT) I memeriksa kondisi fisik sejumlah 8 bendungan di wilayah Jawa Timur (Jatim) pasca diguncang Gempa Blitar magnitudo 5,9, pada Jumat (21/5/2021). Selain itu juga memeriksa sejumlah terowongan.  

Direktur Utama PJT I, Raymond Valiant Ruritan mengatakan, berdasar hasil pemantauan visual dan pengecekan fisik, kondisi sejumlah 8 bendungan masih keadaan normal.

Meski dalam dua bulan terakhir, tercatat ada tiga kali gempa dengan kekuatan di atas magnitudo 5.

Raymond melanjutkan, getaran gempa dilaporkan terasa di sejumlah bendungan dengan kisaran  II hingga IV Modified Mercally Intensity (MMI). Maka, penting untuk memeriksa keamanan fisik bendungan pasca guncangan gempa tersebut.

Baca Juga: Rapat DPRD Jember Sampai Bubar Gegara Gempa Lokal Misterius

Namun, lanjut dia, berdasar hasil pemeriksaan tidak ada retakan dan pergeseran atau rembesan air akibat gempa.

“Kalau dari gempa yang di Blitar kemarin, sudah kami cek kondisi delapan bendungan dan dua terowongan yang kami kelola masih kategori aman. Setelah gempa (Jumat malam), keesokan harinya, tim kami dari PJT I langsung memantau kondisi bendungan dan terowongan. Alhamdulillah semuanya aman,” kata Raymond dikutip dari beritajatim.com media jejaring suara.com, Selasa, (25/5/2021).

Bendungan yang diperiksa tersebut, yakni Bendungan Sengguruh, Sutami dan Selorejo di wilayah Kab Malang. Dua bendungan di Kab Blitar, yakni Bendungan Lahor dan Wlingi. Lalu Bendungan Wonorejo di Tulungagung, Bendungan Bening di Madiun, dan Bendungan Wonogiri di Jawa Tengah.

Sedangkan dua terowongan yang dikelola PJT I berada di Tulungagung. Pertama adalah Terowongan Tulungagung I atau dikenal dengan nama Terowongan Niyama yang dibangun tahun 1961. Kedua adalah Terowongan Tulungagung II atau Terowongan Tulungagung Selatan.

“Dua terowongan ini memang usianya cukup tua, jadi saat terjadi gempa maka setelahnya kami pantau langsung kondisinya. Kondisinya juga cukup aman dan tidak ada tanda-tanda retakan atau pergeseran,” sambungnya.

Baca Juga: Diduga Ada Gempa, Rapat di Gedung DPRD Jember Bubar

Hasil pemantauan bendungan dan terowongan pasca gempa Blitar itu juga langsung dilaporkannya pada Dirjen SDA Kementerian PUPR. Selanjutnya, PJT I kini juga masih melakukan pemantauan kondisi dengan memakai sejumlah instrumentasi keamanan bendungan yang terpasang pada tubuh bendungan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait