Merespon peliknya masalah tersebut, Sutiaji berharap semua pihak bersabar. Lantaran niat menyatukan Arema butuh waktu dan melibatkan banyak pihak.
"Tapi saya mohon berdiam diri dulu. Kita ndak bisa mem-presure (menekan) dalam jangka waktu beberapa hari. Ini kan melibatkan beberapa orang," tuturnya.
Bahkan, lanjut Sutiaji, pihaknya juga telah mencoba menghubungi Muhammad Nur sebagai sosok terakhir yang menjabat Ketua Yayasan Arema. Tujuannya untuk menemukan benang merah kenapa terjadi dualisme Arema dari pihak yayasan.
"Saya sudah menghubungi pak Muhammad Nur saya telpon gak diangkat. Ke keluarganya dibilang jangan diusik ketenangannya bapak. Karena kemarin kan ada pembekuan itu kaitannya dengan yayasan," tutupnya.
Baca Juga:Larangan Mudik, Wali Kota Malang Fokus Pemantauan RT/RW
Sebagai informasi, dualisme Arema ini terjadi sejak 2011 lalu. Ketua Yayasan M. Nur dan Lucky Acub Zaenal sebagai pendiri Arema waktu itu pecah kongsi dengan Presiden Arema Indonesia, Rendra Kresna.
Kubu M. Nur sudah membuat susunan baru kepengurusan Yayasan Arema. Namun ditolak keras oleh Rendra Kresna, dan langsung memecat M. Nur dan jajarannya di Yayasan.
Dualisme ini pun sampai membuat Arema Indonesia Komite Normalisasi (KN) PSSI menolak hak suara Arema Indonesia di Kongres PSSI di Solo 9 Juli 2011 lalu.
Dualisme ini pun semakin kental saat adanya dualisme liga di Indonesia, yakni Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL)
ISL waktu itu disebut sebagai laga tandingan PSSI yang legal. Arema kubu Rendra pun memilih untuk berlaga di sana karena PSSI yang diakui oleh AFC dan FIFA tidak mengakui keabsahan Arema kubu Rendra.
Baca Juga:Wali Kota Malang Dibuat 'Murka' Oknum ASN Sebut Peraturannya Abal-abal
Sementara itu, Arema kubu M. Nur pun berlaga di IPL yang mana liga tersebut diakui keberadaannya oleh AFC dan PSSI.