“Modusnya hampir serupa di setiap kejadian. Pencurian pertama menimpa ibu Srikat. Kopinya dicuri saat sedang dijemur. Diperkirakan jumlah kopi yang diambil mencapai sekitar 2 kuintal, yang setara dengan kerugian lebih dari Rp 8 juta,” kata Munir.
Selang dua minggu kemudian, kejadian serupa menimpa ibu Siati. Saat kembali dari kebun, ia mendapati kopi yang sedang dijemur sudah hilang.
“Kopi tersebut diambil langsung dengan terpalnya, tanpa disadari oleh pemiliknya yang sedang tidak berada di lokasi,” tambahnya.
Harga Kopi Melambung, Jadi Pemicu Pencurian
Baca Juga:Rumah di Kota Batu Terbakar Diduga Gegara Charger Handphone
Menurut Munir, kenaikan harga biji kopi diperkirakan menjadi penyebab utama maraknya pencurian di wilayah tersebut.
Harga kopi yang sebelumnya berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram, kini melonjak hingga Rp 40.000 sampai Rp 60.000 per kilogram.
Kenaikan ini membuat biji kopi menjadi komoditas yang sangat menggiurkan bagi para pencuri.
“Para pelaku diduga memanfaatkan kondisi harga yang sedang tinggi untuk mendapatkan keuntungan besar dengan cara mencuri. Oleh karena itu, kami mengimbau para petani untuk lebih berhati-hati dan selalu mengawasi kopi mereka saat sedang dijemur,” jelas Munir.
Sosialisasi dan Langkah Antisipasi
Baca Juga:Vila di Kota Batu Dibuat Pesta Seks, Satpol PP Akui Sulit Terungkap
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah desa telah mensosialisasikan kepada warga untuk lebih waspada terhadap aktivitas mencurigakan di sekitar kebun atau tempat penjemuran kopi.