Ricki menuturkan bahwa seiring berjalannya waktu, lokomotif uap berbobot 25 ton tersebut mengalami kerusakan dan pengeroposan. Sebelum dilakukan preservasi, kata dia, lokomotif tersebut dipenuhi karat hingga tumbuhan liar.
"Bentuknya secara fisik masih sama tapi kondisinya itu sudah karatan, keropos, dan ditumbuhi oleh tanaman liar, jadi tidak terurus. Jadi kami restorasi paling tidak tampilan fisiknya dulu sebagai bukti kalau komunitas ini, kami peduli dengan sejarah kereta api yang ada di lokomotif ini," kata Ricki.
Program preservasi dilakukan sejak pertengahan Februari 2022. Adapun biayanya diperoleh dari hasil iuran anggota komunitas.
Ricki berharap dengan telah selesainya pemeliharaan lokomotif uap B2207, masyarakat akan semakin antusias untuk melihat sekaligus mempelajari sejarah perkeretaapian.
Baca Juga:Cerita Mistis Ganjar Pranowo Jadi Gubernur Usai Naik Sepur Kluthuk Jaladara
"Semoga ini bisa menjadi magnet baru untuk teman-teman atau wisatawan yang berkunjung ke sini ternyata ada lokomotif yang sekarang bentuknya sudah bagus dan bukan hanya sebagai sarana foto-foto tetapi juga bisa mengedukasi masyarakat," pungkas dia.
Sementara itu, Kepala Buperta Cibubur Ermadi berharap kerja sama dengan IRPS bisa terus berlanjut.
Dia mengatakan bahwa pihaknya telah memberikan fasilitas berupa ruangan kepada IRPS untuk memudahkan mereka dalam mengedukasi masyarakat tentang sejarah lokomotif uap seri B2207 yang ada di Buperta Cibubur.
"Saya harapkan juga ini sebagai edukasi untuk generasi muda di bumi perkemahan ini. Nanti akan ada petunjuk dari IRPS yang akan memberikan keterangan-keterangan tentang sejarah lokomotif uap ini," ucap Ermadi.
IRPS merupakan komunitas pecinta kereta api yang memusatkan perhatian dan kegiatannya pada penyelamatan dan pelestarian aset perkeretaapian Indonesia yang bernilai sejarah. Komunitas yang berdiri pada 2004 itu telah memiliki sekitar 250 anggota yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga:Bersiaplah! Big Boy, Kereta Uap Terbesar di Dunia Kembali Beroperasi di AS