Selama beberapa bulan mencoba menunggu kepastian, para siswa ini tak juga mengalami kejelasan nasib. Bahkan, mereka nyaris diusir karena tidak juga membayar uang asrama.
Karena khawatir akan nasib anak-anaknya, beberapa orang tua akhirnya meminta agar kuliah dibatalkan dan menuntut ganti biaya yang sudah dibayarkan. Namun, saat diminta biaya ganti rugi, AS berkilah jika uang yang terkumpul sudah disetorkan kepada seorang agen di China.
"Ternyata uang tidak sepenuhnya dikembalikan. Katanya sudah ada yang dibayarkan ke pihak kampus, sudah dibayarkan untuk biaya Pendidikan. Alasannya terlapor seperti itu," katanya.
Karena curiga, kemudian AS diminta untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa para siswa tersebut sudah terdaftar di kampus yang dimaksudkan. Namun, sekali lagi AS mencoba berdalih dan terus berkilah.
Baca Juga:Wanita Muda di Tanjungpinang Diciduk Terkait Penipuan Member Arisan Puluhan Juta
"Katanya sudah mendaftarkan di kampus di China. Saat diminta bukti-bukti bahwa memang benar sudah memesan atau mendaftar, terlapor tidak bisa membuktikan," kata Firdaus.
"Usut punya usut, setelah dilakukan kroscek ke China ternyata tidak ada uang yang masuk ke kampus. Akhirnya terlapor mengaku uangnya masih dia pakai. Sekian lama ditagih, sampai sekarang tidak mau mengembalikan," kata Firdaus.
Sebab itulah, didampingi kuasa hukumnya, PA kemudian melaporkan AS ke polisi atas dugaan penggelapan uang beasiswa kuliah ke China. Sebagai informasi, ada sekitar 11 orang siswa yang sempat mendaftarkan diri dan sudah membayar.