Wakos Reza Gautama
Rabu, 29 April 2026 | 11:14 WIB
Ilustrasi pemain Arema FC. Manajemen Arema FC memberikan ultimatum pada pemain dan pelatih usai kalah telak dari Persebaya. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Persebaya Surabaya mengalahkan Arema FC dengan skor 4-0 di Stadion Kapten I Wayan Dipta pada Selasa, 28 April 2026.
  • Manajemen Arema FC menuntut poin maksimal pada empat laga sisa sebagai bukti profesionalisme pemain dan staf pelatih tim.
  • Kekalahan telak tersebut memicu rencana perombakan besar di internal tim akibat performa buruk serta kendala jadwal dan venue pertandingan.

SuaraMalang.id - Papan skor di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Selasa malam (28/4/2026) seolah menjadi saksi bisu runtuhnya martabat Singo Edan.

Angka 4-0 terpampang nyata, sebuah keunggulan mutlak bagi Persebaya Surabaya dalam laga bertajuk Derby Jatim yang selalu mempertaruhkan gengsi setinggi langit.

Bagi Aremania, ini bukan sekadar kekalahan, ini adalah luka mendalam. Bagi manajemen Arema FC, hasil ini adalah alarm keras yang menandakan ada sesuatu yang sangat salah di internal tim.

Tak butuh waktu lama bagi manajemen untuk bereaksi. General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Pria yang akrab disapa Inal ini menegaskan bahwa manajemen berada di barisan yang sama dengan suporter. Terluka dan menuntut jawaban.

“Kami sangat memahami kekecewaan Aremania. Harapan besar semula ada pada laga derby ini, terlebih setelah tren positif saat melawan Persib. Namun hasilnya sangat jauh dari harapan,” ujar Inal dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Manajemen pun langsung menjatuhkan perintah tak terbantahkan. Empat laga tersisa di musim ini bukan lagi soal jadwal formalitas, melainkan ajang pembuktian kelayakan bagi para pemain dan staf pelatih.

"Kami instruksikan secara tegas, empat laga tersisa harus menghasilkan poin maksimal. Ini adalah pembuktian profesionalisme mereka," tambahnya.

Di balik hasil memilukan tersebut, pihak manajemen mencoba membedah apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Jadwal yang "mencekik" menjadi kambing hitam utama.

Dalam waktu singkat, Singo Edan harus melakoni dua laga big match berturut-turut melawan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya. Intensitas tinggi ini diakui membuat stamina pemain terkuras habis.

Baca Juga: Dwigol Winger Arema FC Gabriel Silva Benamkan Persis di Kawah Kanjuruhan

Selain faktor fisik, faktor psikologis juga turut berperan. Ketidakpastian mengenai venue pertandingan yang sempat berubah-ubah sebelum laga Derby dimulai dianggap memecah konsentrasi para penggawa Arema.

"Kepastian lokasi pertandingan derby sangat krusial bagi kesiapan mental dan logistik klub. Ini harus menjadi catatan bagi operator liga," kata Inal.

Namun, alasan tetaplah alasan. Skor 4-0 sudah tercatat dalam sejarah kelam klub. Inal memastikan bahwa manajemen tidak akan tinggal diam melihat performa yang jeblok ini. Sinyal evaluasi total sudah mulai dikirimkan.

Manajemen Arema FC kini tengah menyiapkan rencana perombakan besar untuk musim depan agar tragedi serupa tidak terulang.

Load More