facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kasus Anak Kiai Jombang Dinilai Melecehkan Wibawa Penegak Hukum

Abdul Aziz Mahrizal Ramadan Kamis, 07 Juli 2022 | 16:46 WIB

Kasus Anak Kiai Jombang Dinilai Melecehkan Wibawa Penegak Hukum
Polisi berjaga di akses masuk ke pesantren Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang, Kamis (7/7/2022). [SuaraJatim.id/Zen Arivin]

MSAT, putra kiai Ploso Jombang DPO kasus pencabulan santriwati.

SuaraMalang.id - Pakar Hukum Pidana Universitas Brawijaya (UB), Lucky Endrawati menilai kasus pencabulan santriwati dengan tersangka Moch Subchi Al Tsani (MSAT), anak kiai Jombang telah melecehkan wibawa penegak hukum.

Seperti diberitakan, kepolisian mengepung Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Ploso, Kabupaten Jombang, Kamis (7/7/2022) untuk melakukan upaya penangkapan terhadap MSAT yang berstatus DPO tersebut.

Namun, upaya penjemputan itu mendapat perlawanan dari para pengikut MSAT. Puluhuan orang diamankan lantaran dianggap menghalang-halangi tugas aparat untuk menegakkan hukum.

Dijelaskan Lucky, apabila terdapat subjek hukum yang menghalang-halangi tugas Polri sebagai penyidik maka dapat dikenakan pidana. Hal itu sesuai dengan Pasal 216 ayat (1) KUHP yang bunyinya sebagai berikut.

Baca Juga: Penangkapan Tersangka Pencabulan Santri di Ponpes Shiddiqiyyah Diwarnai Perlawanan

Barang siapa dengan sengaja tidak sesuai dengan perintah atau permintaan yang dilakukan sesuai undang-undang oleh pejabat yang mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan, demikian pula yang diberi wewenang untuk memeriksa tindak tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undang-undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda banyak sembilan ribu rupiah.

“Peristiwa tersebut juga menunjukkan menurunnya wibawa penegak hukum di masyarakat atau dapat dikategorikan sebagai perbuatan melecehkan aparat penegak hukum,” kata Lucky mengutip dari Beritajatim.com jejaring Suara.com, Kamis, (7/7/2022).

Lucky menuturkan, dugaan perbuatan cabul yang menjerat MSAT di Jombang secara substansi adalah pidana biasa seperti yang dilakukan tersangka lain. Hanya saja Polri dihadapkan pada persoalan MSAT adalah anak tokoh berpengaruh di Jombang.

“Namun karena tersangka adalah anak seorang tokoh agama yang selama ini melekat label tokoh yang sangat dihormati atau bahkan dikultuskan, maka kasus ini menjadi bukti bahwa hukum tidak bersih dari pengaruh sosial,” ujar Lucky.

Polisi, terang Lucky, tidak perlu ragu menangkap MSAT. Sebab, dalam menjalankan tugas, Polri dilindungi aturan seperti tertera pada Pasal 1 angka 20 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Baca Juga: Video Al Mursyid Toriqoh Shiddiqiyyah Kiai Muhtar Janji Serahkan Putranya DPO Kasus Pencabulan ke Polda Jatim

“Mekanisme penegakan hukum pidana sangat jelas. Ketika seseorang sudah cukup bukti melakukan tindak pidana, maka dapat dilakukan upaya paksa yakni penangkapan sebagaimana makna penangkapan di pasal 1 angka 20 KUHAP,” tandasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait