Kejanggalan tak selesai di sana, cinderamata yang dulunya diberikan sekelompok mahasiswa KKN dari kota Surabaya tersebut juga hilang, padahal setiap kegiatan semacam ini di Desa Bayu, kenang-kenangan dari mahasiswa pasti tertata rapi dan tersimpan dengan baik.
Mengenai adanya sebuah hutan larangan yang ada dalam cerita viral KKN di Desa Penari, Sugito menyatakan tidak ada.
"Di sini ini termasuk hutan lindung, kalau di sekelilingnya rowo bayu hutan produksi. Jadi di rowo bayu itu ada 3 hektar lokasi hutan lindung dan ada 8 hektar pendukung, jadi tidak ada hutan larangan," ungkapnya.
Jarak sekitar 3 kilometer dari rowo bayu, terdapat sebuah perkampungan yang tak lagi berpenghasilan. Perkampungan itu disebut Ndarungan yang dulunya merupakan tempat singgah para pekerja perkebunan Bayu Lor. Namun sejak tahun 2000, seluruh pekerja dialihkan ke perkampungan Telepak. Dulunya, Ndarungan sempat dihuni sebanyak 18 KK.
Baca Juga:KKN di Desa Penari Jadi Film Indonesia Terlaris, Tissa Biani Sempat Terpuruk Gegara Ini
Setelah mencoba menelusuri lebih dalam, Sugito menemukan ada dua perkampungan yang sudah hilang sejak tahun 1915 silam, lokasi ada di sekitar Ndarungan.
Meski ada temuan tersebut, Sugito tidak menemukan bekas-bekas bangunan dan perkampungan.
"Kalau soal kampung hilang saya punya data-datanya, saya mencoba menelusuri namun tidak ketemu bekas bangunnya, saat tepat di lokasi kampung hilang tersebut, GPS saya tiba-tiba mati," cetus Sugito.
Tambahan informasi, rowo bayu sendiri merupakan tempat wisata yang berjarak sekitar 35 kilometer dari Kota Banyuwangi dan berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di tempat ini, terdapat petilasan Prabu Tawang Alun yang merupakan salah satu Raja Blambangan, di sana terdapat tiga mata air atau sendang. Ketiga mata air tersebut diberi nama Sendang Keputren, Sendang Wigangga, dan Sendang Kamulyan.
Kontributor: Achmad Hafid Nurhabibi
Baca Juga:Cerita Sewu Dino Lengkap, Kisah yang Lebih Mengerikan dari KKN di Desa Penari!