"Saat mereka kemudian memilih melindungi memilih dan mendiamkan sebenarnya tidak berpihak kepada anak," ujarnya.
Dia pun berpesan, sekolah baik yang berkonsep asrama maupun tidak harus menciptakan sekolah yang ramah dan aman bagi anak.
Caranya dengan merekrut sumber daya manusia yang telah berkomitmen sejak awal untuk antisipasi kekerasan seksual dan perundungan terhadap siswa di lingkungan sekolah maupun asrama.
"Mereka harus melatih SDM-nya mulai dari tukang sapu sampai kepseknya. Prioritaskan keselamatan anak sebelum menerima siswa. Mereka harus berkomitmen terlebih dahulu dan pihak sekolah harus selektif dan memberikan komitmen itu," kata dia.
Baca Juga:Jajan Sendirian ke Warung, Bocah 5 Tahun di Sumut Diduga Jadi Korban Pelecehan
Terpisah Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Kota Batu, Emy Yulianungrum mengaku telah berupaya untuk menciptakan ruang aman untuk anak bersekolah di Kota Batu.
Program pun telah dicanangkan sejak 2015 berupa program sekolah ramah anak.
Namun, program itu dengan adanya kasus kekerasan di SMA Al-Izzah Islamic International Boarding School ini membuat program itu tidak sempurna.
"Kejahatan juga tidak bisa dihapus 100 persen, tapi setidaknya mengurangi. Jika ada kekerasan seksual, kami langsung terjun ke lapangan," imbuh dia.
Terkait kasus di SMA Al-Izzah, dia pun sudah terjun ke lapanhan. Pihaknya telah melakikan pendampingan secara psikologis ke korban.
Baca Juga:Pelecehan Seksual di Boarding School Kota Batu, Kepsek Sebut Pelaku Sudah Tobat
"Iya terjadi. Itu tentu menjadi hal yang cukup traumatis sehingga kami mengupayakan penyembuhan secara psikologis," tutup dia.