alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Terus Bermutasi, Ada Indikasi Muncul COVID-19 Lebih Berbahaya dari Varian Delta

Abdul Aziz Mahrizal Ramadan Rabu, 15 September 2021 | 08:10 WIB

Terus Bermutasi, Ada Indikasi Muncul COVID-19 Lebih Berbahaya dari Varian Delta
Ilustrasi Virus Corona, varian delta, Covid-19, mutasi, virus varian baru. [Pixabay]

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan, COVID-19 diyakini bakal terus bermutasi.

SuaraMalang.id - Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan, COVID-19 diyakini bakal terus bermutasi. Karenanya, masyarakat diimbau agar jangan lengah dan terus meningkatkan kewaspadaan.

Dicky Budiman memperkirakan akan ada beberapa varian Virus Corona yang lebih berbahaya dari varian delta. Indikasinya dengan ditemukan varian C.1.2 di Afrika Selatan pada bulan Mei 2021.

"Varian ini berpotensi mengalahkan delta. Ini karena semua mutasi dari alpha, beta, delta, dan gamma ada di varian 1.2," katanya dalam webinar Alinea Forum bertajuk Waspada Masa Krisis Pandemi COVID-19 Belum Berakhir di Jakarta mengutip dari Antara, Selasa (14/9/2021).

Merespon potensi mutasi COVID-19, lanjut Dicky, pemerintah harus bersiap dan berupaya mencegah masuknya virus varian baru tersebut.

Baca Juga: Dua Peserta Tes SKD CPNS di Kota Madiun Terpapar COVID-19

Sembari juga mulai bersiap untuk hidup berdampingan dengan COVID-19, lantaran tampaknya pandemi masih panjang.

Dicky menganggap kebijakan PPKM level suatu strategi yang tepat. Saat ini WHO pun sedang membuat strategi yang mirip dengan PPKM level.

Menurut dia, PPKM menjadi penjaga gawang selama masih merebaknya COVID-19. Hal itu harus dipahami oleh semua pihak dan kewajiban pemerintah menjelaskan kepada masyarakat.

"PPKM ini tidak mematikan ekonomi, kecuali kalau level empat. Inilah yang harus disampaikan kepada publik," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama menyebutkan tidak ada satu pun epidemilog yang bisa memastikan kapan pandemi berakhir.

Baca Juga: Tak Mau Jadi Klaster Covid-19, Disdik DKI Belum Mau Gelar PTM Setiap Hari

Pemprov DKI akan memastikan 14 juta orang yang beraktivitas di Jakarta telah mendapatkan vaksinasi. Vaksin masih menjadi upaya terbaik kendati belum bisa mencegah penularan COVID-19. Akan tetapi, bisa mengurangi dampak negatif ketika terpapar COVID-19.

"Tidak ada orang yang kami tinggalkan selama pandemi ini. Jadi, harapannya tidak hanya 11 juta jiwa penduduk DKI, tetapi 14 juta jiwa penduduk yang beraktivitas di DKI pada siang hari sudah lengkap vaksinasi dua dosis sehingga herd immunity dapat tercapai," ucapnya

Pemberian vaksinasi anak di bawah umur 12 tahun, menurut dia, perlu dilakukan. Apalagi, Tiongkok sudah memberikan vaksinasi untuk anak usia 3 tahun dengan menggunakan vaksin Sinovac, sementara Chile untuk anak usia 6 tahun.

Ia mengingatkan masyarakat yang telah mendapatkan vaksinasi tetap harus mendisiplinkan diri dan memperketat protokol kesehatan.

"Jangan menjadi lengah dan kendor karena COVID-19 masih mengancam," katanya. (Antara)

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait