alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Orang Depresi di Kota Probolinggo Meningkat, Ini Diduga Pemicunya

Abdul Aziz Mahrizal Ramadan Selasa, 23 Februari 2021 | 13:42 WIB

Orang Depresi di Kota Probolinggo Meningkat, Ini Diduga Pemicunya
Ilustrasi depresi di Kota Probolinggo. [shutterstock]

Pandemi Covid-19 berdampak pada kesehatan mental. Satpol PP Kota Probolinggo menduga peningkatan laporan orang depresi akibat faktor tersebut.

SuaraMalang.id - Kasus orang depresi di Kota Probolinggo dilaporkan meningkat. Fenomena itu diduga akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda.

Kepala Dinas Satpol PP, Agus Effendy mengatakan, pihaknya menerima enam laporan orang depresi dan mengamuk dalam dua pekan terakhir ini. Fenomena ini sangat jarang terjadi. Sebelumnya, terutama sebelum pandemi Covid-19 merebak, laporan orang depresi hanya terjadi kisaran dua pekan.

Sedangkan, lanjut dia, laporan orang depresi cukup sering terjadi selama Pandemi Covid-19 berlangsung. Biasanya warga melaporkan orang depresi tersebut sedang mengamuk. Mereka juga tidak tahu bagaimana menangani orang depresi. Terlebih itu kerabatnya sendiri.

“Sehingga minta bantuan kami untuk menanganinya,” kata Agus, seperti dikutip dari timesindonesia.co.id media jejaring suara.com, Selasa (23/2/2021).

Baca Juga: 4 Cara Mengelola Depresi Saat Pandemi Covid-19

Agus menambahkan, peningkatan laporan kasus orang depresi atau orang dengan gangguan kejiwaan tersebut dipicu pandemi Covid-19. Dicontohkannya banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan krisisnya kondisi ekonomi.

Sementara itu, Prasetyo, warga Tisnonegaran, Kanigaran Kota Probolinggo menuturkan, bahwa salah satu keluarganya mengalami depresi. Kondisi ini terjadi usai di-PHK perusahaan atau pabrik kayu tempat keluarganya tersebut bekerja.

“Tetapi tidak sampai mengamuk. Masih bisa ditangani oleh keluarga. Memang jamannya sedang sulit mas,” katanya.

Perlu diketahui, Satpol PP Kota Probolinggo dalam menangani orang depresi atau orang dengan gangguan kejiwaan tetap berkoordinasi dengan instansi terkait, yakni Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan.

Jika ada keluarganya, maka penanganan selanjutnya dikomunikasikan dengan keluarga. Apabila tidak ada, biasanya langsung dikirim ke rumah sakit jiwa Lawang, Malang atau ke Shelter Dinsos di Mojokerto.

Baca Juga: Studi: Terapi CBT Bisa Bikin Pengangguran yang Depresi Mendapat Pekerjaan

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait