- Dugaan pelecehan seksual terjadi saat syuting konten horor sumpah pocong.
- Korban mengaku ditekan secara psikis melalui ritual dan ramalan.
- Kasus Gus Idris Al Marbawi viral dan belum terkonfirmasi polisi.
SuaraMalang.id - Beredar di media sosial Gus Idris Al Marbawi diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang model perempuan saat proses syuting konten horor.
Dugaan pelecehan seksual itu terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Thoriqul Jannah, Malang, Jawa Timur (Jatim), yang diasuh oleh Gus Idris Al Marbawi.
Kasus yang menyeret nama Gus Idris Al Marbawi ini mencuat setelah korban mengunggah pengalamannya melalui akun Instagram pribadi @sovinovitav. Potongan-potongan pengalaman itu pun menyebar di X.
Dalam unggahan tersebut, korban mengaku awalnya hanya menerima tawaran pekerjaan sebagai model untuk syuting konten YouTube bertema sumpah pocong.
Menurut penuturan korban, setelah syuting di sejumlah lokasi, ia kembali ke area pondok pesantren. Di tempat itulah, Gus Idris Al Marbawi diduga melakukan rangkaian tindakan yang mengarah pada dugaan pelecehan seksual dengan dalih ritual spiritual.
Berikut fakta-faktanya.
1. Korban Direkrut untuk Syuting Konten Horor
Peristiwa bermula ketika korban mendapat tawaran pekerjaan sebagai model untuk konten horor. Tawaran tersebut disampaikan tanpa menjelaskan adanya ritual pribadi atau aktivitas lain di luar proses pengambilan gambar.
Korban menyebut dirinya datang dengan niat profesional sebagai model. Tidak ada kecurigaan awal karena pekerjaan tersebut diklaim sebagai bagian dari produksi konten YouTube.
2. Lokasi Dugaan Pelecehan Terjadi di Pondok Pesantren
Setelah proses syuting di beberapa tempat, korban dibawa kembali ke pondok pesantren. Di lokasi inilah, dugaan pelecehan seksual disebut terjadi.
Korban mengaku situasi pondok yang tertutup membuatnya tidak memiliki ruang untuk menolak atau meminta bantuan secara langsung.
3. Korban Dipanggil Asisten Saat Istirahat
"Pas istirahat, aku dipanggil sama asistennya," tulis korban. Pemanggilan itu disebut dilakukan secara terpisah dari kru lainnya.
Dalam percakapan tersebut, pembahasan mulai mengarah ke urusan pribadi dan imbalan uang, yang membuat korban merasa tidak nyaman.