Wakos Reza Gautama
Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:11 WIB
Tim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat inovasi pengembangan mesin pencuci singkong semi mekanis berbasis drum spray dan water recirculation untuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Tiga mahasiswa Teknik Mesin UMM menciptakan mesin pencuci singkong semi-mekanis untuk meningkatkan efisiensi produksi para pelaku UMKM.
  • Inovasi tersebut mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari tujuh jam menjadi hanya satu jam saja.
  • Alat yang memenangkan kompetisi APSTM-PT ini menggunakan sistem sirkulasi air ramah lingkungan untuk menghasilkan singkong berkualitas bersih.

SuaraMalang.id - Bayangkan jika Anda harus mencuci setengah ton singkong secara manual. Butuh waktu setidaknya tujuh jam, tenaga ekstra, dan air yang melimpah hanya untuk memastikan umbi-umbi tersebut bersih dari tanah dan getah.

Namun, di tangan tiga mahasiswa kreatif dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pekerjaan melelahkan itu kini bisa tuntas hanya dalam waktu satu jam saja.

Melalui inovasi mesin pencuci singkong semi-mekanis berbasis drum spray dan water recirculation, tim mahasiswa Teknik Mesin UMM berhasil menghadirkan solusi konkret bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Tak sekadar inovatif, karya ini juga baru saja dinobatkan sebagai juara dalam ajang bergengsi yang digelar Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (APSTM-PT) se-Indonesia.

Nova Sinanti, ketua tim pengembang, menjelaskan bahwa mesin ini lahir dari keprihatinan melihat proses produksi UMKM keripik singkong yang masih sangat tradisional. Ketergantungan pada pencucian manual menjadi penghambat produktivitas.

“Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong secara drastis. Jika manual butuh empat hingga tujuh jam, dengan alat ini hanya butuh sekitar satu jam saja,” papar Nova, Sabtu (13/6/2026).

Rahasianya terletak pada sistem ulir yang mengarahkan bahan baku secara otomatis serta fitur drum spray. Hebatnya lagi, mesin ini sangat ramah lingkungan.

Berkat sistem sirkulasi air yang terintegrasi dengan sedimen trap, air pencuci tidak langsung terbuang, melainkan disaring kembali untuk digunakan ulang tanpa mencampur kotoran dengan singkong yang sudah bersih.

Bukan hanya soal kecepatan, mesin buatan Nova, Azka Firosyan, dan Raihan Rosyadi ini juga mengincar kualitas rasa.

Baca Juga: Sekolah Rakyat di Malang Belum Punya Gedung Permanen, Ini Respons Dudung Abdurachman

Teknologi air yang mereka kembangkan didesain sebagai bantalan air agar kulit singkong terkelupas sempurna tanpa melukai dagingnya.

Hasilnya? Singkong yang dicuci menggunakan mesin ini akan menghasilkan keripik dengan warna yang lebih cerah dan tidak pahit. Sisa getah dan pasir, hilang tak berbekas.

Keberhasilan tim ini tak lepas dari bimbingan Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi'i. Sang dosen pendamping berharap karya ini tidak berhenti sebagai pajangan di lemari trofi atau sekadar prototipe perlombaan.

“Inovasi ini adalah bukti bahwa mahasiswa kami mampu menerjemahkan ilmu teknik menjadi solusi nyata. Saya berharap mesin ini segera diproduksi secara massal agar manfaatnya langsung dirasakan oleh pelaku UMKM kita,” tegas Yepy.

Dalam babak final yang diikuti oleh 15 tim unggulan dari seluruh Indonesia, rancangan mahasiswa UMM ini dinilai paling solutif dan siap guna. (ANTARA)

Load More