Wakos Reza Gautama
Sabtu, 06 Juni 2026 | 07:14 WIB
Tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan menerapkan metode slope rescue untuk melanjutkan proses evakuasi seorang pendaki bernama Cakra yang terperosok ke jurang Gunung Semeru di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Seorang pendaki bernama Cakra terperosok ke jurang sedalam 375 meter di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, pada 1 Juni 2026.
  • Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi teknis menggunakan metode slope rescue karena medan tebing yang ekstrem dan nyaris tegak lurus.
  • Korban ditemukan melalui titik koordinat yang dikirimkan kepada keluarga sebelum akhirnya berhasil diselamatkan dengan bantuan tandu gulung khusus.

SuaraMalang.id - Di bawah bayang-bayang kemegahan Gunung Semeru, sebuah drama antara hidup dan mati terbentang. Cakra, seorang pendaki yang tengah meniti jalan di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, harus mengalami mimpi buruk terperosok ke dalam jurang sedalam kurang lebih 375 meter.

Bukan sekadar kedalaman yang menjadi soal, namun medan yang nyaris tegak lurus dan minim pijakan membuat misi penyelamatan ini menjadi salah satu operasi paling menantang bagi Tim SAR Gabungan.

Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengungkapkan bahwa timnya terpaksa memutar otak untuk mengevakuasi korban.

Pilihannya jatuh pada metode slope rescue. Ini bukan sekadar teknik menarik tali, melainkan sebuah prosedur presisi di medan miring yang menuntut ketelitian tinggi.

"Kemiringan medan sangat ekstrem. Dengan metode slope rescue, evakuasi bisa dilakukan secara bertahap dan lebih efisien, demi menjamin keselamatan korban maupun tim yang bertugas," ujar Nanang pada Jumat (5/6/2026).

Secara teknis, tubuh Cakra diletakkan dengan hati-hati di atas rolling stretcher atau tandu gulung. Seuntai tali yang dikendalikan penuh oleh tim ahli menjadi satu-satunya penyambung asa, memastikan tandu tersebut bergerak perlahan meniti tebing curam menuju titik aman.

Sebelum evakuasi fisik dimulai, tim medis SAR terlebih dahulu memberikan pertolongan pertama di dasar jurang. Cakra diduga mengalami dislokasi serius pada pergelangan kaki kanannya.

"Kaki survivor harus segera dibidai. Kami harus meminimalkan pergerakan agar pembengkakannya tidak semakin parah," tambah Nanang.

Keberadaan Cakra sendiri ditemukan berkat sebuah keajaiban teknologi. Sesaat setelah jatuh pada Senin (1/6/2026) pagi sekitar pukul 10.00 WIB, Cakra sempat mengirimkan titik koordinat lokasinya kepada pihak keluarga sebelum saluran komunikasinya benar-benar terputus.

Baca Juga: 22 SPPG di Malang Disegel Gara-gara Urusan Limbah

Berbekal titik koordinat itulah, ayah korban bersama warga setempat bergerak cepat melakukan pencarian awal, berkoordinasi dengan Koramil Tirtoyudo dan Ampelgading, hingga akhirnya Tim SAR Gabungan tiba untuk melakukan evakuasi teknis pada Selasa (2/6/2026).

Hingga kemarin, tim di lapangan masih terus berjuang melawan kontur tanah yang labil dan akses yang sangat terbatas. (ANTARA)

Load More