Wakos Reza Gautama
Kamis, 04 Juni 2026 | 20:49 WIB
Ilustrasi Kota Malang. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur di Kabupaten Malang menyebut fenomena bediding atau suhu dingin saat musim kemarau, khususnya di Malang Raya disebabkan aktifnya angin monsun timuran bersifat kering dan dingin. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • BMKG mengonfirmasi fenomena Bediding di Malang Raya akibat Angin Monsun Timuran yang membawa udara dingin dari Australia.
  • Suhu udara ekstrem antara 17-18 derajat Celsius diprediksi terjadi pada dini hari sepanjang periode Juni hingga September 2026.
  • Fenomena suhu dingin ini berisiko menyebabkan gagal panen tanaman hortikultura serta memicu stres hingga kematian pada hewan ternak.

SuaraMalang.id - Ada yang berbeda dengan udara Malang Raya belakangan ini. Saat matahari terik di siang hari, hembusan angin justru terasa menusuk tulang.

Warga lokal menyebutnya Bediding, sebuah fenomena tahunan di mana musim kemarau justru membawa suhu dingin yang ekstrem di waktu-waktu tertentu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur mengonfirmasi bahwa fenomena ini bukanlah anomali, melainkan siklus musiman yang dipicu oleh aktifnya Angin Monsun Timuran.

Angin yang bertiup dari Benua Australia ini membawa massa udara yang bersifat kering dan dingin melewati wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur.

"Bediding dicirikan dengan suhu lingkungan yang jauh lebih dingin dari normalnya. Hal ini diperparah dengan kondisi langit yang bersih tanpa tutupan awan, sehingga panas bumi dilepaskan ke atmosfer tanpa ada penghalang pada malam hari," jelas Linda Fitrotul, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Kamis (4/6/2026).

Bagi warga yang kerap beraktivitas di dini hari, bersiaplah untuk menghadapi suhu yang bisa membuat menggigil. BMKG mencatat, titik terdingin biasanya terjadi antara pukul 03.00 hingga 06.00 WIB, dengan suhu merosot hingga ke angka 17-18 derajat Celsius.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan suhu malam hari yang rata-rata berada di kisaran 20-21 derajat Celsius. Kontras suhu ini terasa kian tajam saat memasuki siang hari pukul 12.00-14.00 WIB, di mana merkuri pada termometer kembali naik ke angka 27-29 derajat Celsius.

Fenomena selimut dingin ini diprediksi akan terus menemani warga Malang Raya sepanjang periode kemarau, mulai dari Juni hingga September 2026 mendatang.

Namun, Bediding bukan sekadar soal gaya berpakaian dengan jaket tebal. Di balik keindahannya, fenomena ini membawa ancaman nyata bagi sektor agraris dan peternakan di dataran tinggi Malang.

Baca Juga: Niat Selundupkan Suplemen ke Lapas Malang, Napi Kena Sanksi 3 Bulan

Munculnya "embun es" atau frost menjadi momok bagi petani sayuran, bunga, dan tanaman hortikultura. Butiran es yang menempel pada daun dapat menyebabkan kerusakan jaringan tanaman secara permanen hingga gagal panen. Tak hanya tanaman, makhluk bernyawa pun terdampak.

"Pada sektor peternakan, suhu dingin yang ekstrem ini mampu menyebabkan hewan ternak mengalami stres. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini memicu penyakit bahkan risiko kematian pada ternak," tambah Linda. (ANTARA)

Load More