"Daripada yang kemarin ketika daring kemarin kan anak-anak juga banyak yang gak masuk kalau google meet ya. Ijin-ijin bolos-bolos. Kalah sekarang kan lebih paham materi," tutur dia.
Dia pun berharap, PTM ini bisa mampu mempersiapkan dirinya untuk ujian sekolah. "Jadi lebih bantu memahami materi ya. Harapan saya apalagi kelas 9 kan harus lebih matang ya mau ujian-ujian ini," tutur dia.
Wakil Kepala Kesiswaan SMPN 20 Malang, Liesdyah Iramita menjelaskan, di SMPN 20 tidak menggunakan sistem ganjil genap lagi. Alhasil, semua siswa di setiap kelas musti masuk mengikuti PTM.
"Namun hanya 50 persen kan batasnya. Jadi dari 875 siswa kita yang masuk itu hanya 430-an siswa per hari yang masuk. Jadi karena 50 persen itu yang masuk semua hari ini, semua kelas 9 sampai siswa sebagian kelas 8 A sampai 8 E. Besok, kelas 7 dan juga kelas 8 F sampai I," kata dia.
Baca Juga:Anaknya Nangis Ingin PTM, Warganet Ini Curhat ke Gibran: Kita Sudah Bayar Mahal
Untuk mengurangi kerumunan di kelas, Lies menjelaskan, pembelajaran siswa satu kelas menggunakan dua ruangan. Ada 27 ruangan kelas di SMPN 20.
"Jadi laboratorium dan gazebo yang dulu jarang digunakan kini digunakan untuk PTM. Kami gunakan untuk ruang kelas. Jadi di satu ruangan itu ada 16 orang maksimal. Itu untuk mengurangi kerumunan," ujarnya.
Lies membenarkan bahwa dengan kebijakan satu kelas menggunakan dua ruangan itu membuat guru agak kewalahan. Namun kebijakan ini mengikuti kebijakan PTM yang dilakukan SMPN 5 Malang.
"Ya ini kan kami tidak punya kepala sekolah. Kan ini kami masih Plt. (Pelaksanaan Tugas). Plt. nya ya sekarang Kepala sekolahnya SMPN 5. Di SMPN 5 ya kayak gitu. Bisa gak bisa ya harus bisa," katanya.
Lies mengatakan, tidak menutup kemungkinan ada evaluasi untuk proses PTM dengan kebijakan satu guru mengajar di dua ruangan kelas.
Baca Juga:SMK Negeri 3 Makassar Perketat Protokol Kesehatan, Sediakan Ratusan Tempat Cuci Tangan
"Ya nanti evaluasi pasti ada. Tapi selama ini semoga masih lancar," imbuhnya.