Wakos Reza Gautama
Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:41 WIB
Kadishub Kota Malang Widjaja Saleh Putra menyebut pihaknya memasang alat global positioning system (GPS) pada 73 angkutan kota atau angkot sebagai bagian persiapan teknis pelaksanaan program angkutan pelajar gratis. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Dinas Perhubungan Kota Malang memasang GPS pada 73 armada angkot untuk program Angkutan Pelajar Gratis mulai bulan ini.
  • Kepala Dishub Widjaja Saleh Putra menyatakan seleksi ketat administratif STNK dan SIM diterapkan untuk menjamin keamanan pelajar pada Senin, 24/8/2026.
  • Sistem Buy The Service diterapkan agar sopir dibayar berdasarkan jarak tempuh, sehingga meringankan biaya transportasi orang tua siswa.

SuaraMalang.id - Wajah transportasi publik di Kota Malang bersiap melakukan lompatan besar. Angkutan kota (angkot) yang selama ini identik dengan kesan konvensional, kini mulai bersalin rupa menjadi lebih modern.

Sebanyak 73 armada angkot resmi dipasangi perangkat Global Positioning System (GPS) sebagai bagian dari persiapan Angkutan Pelajar Gratis.

Langkah ini bukan sekadar gaya-gayaan teknologi. Pemasangan GPS menjadi mata digital bagi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang untuk memastikan setiap armada bergerak sesuai jalur dan melayani para siswa dengan tepat waktu.

Selain GPS, stiker khusus pun mulai menghiasi bodi angkot, menandakan mereka adalah mitra resmi pelayanan publik.

Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menjelaskan bahwa transformasi ini menargetkan total 80 armada. Pihaknya sangat selektif dalam memilih mitra. Standar administratif seperti kelengkapan STNK dan SIM sopir menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

"Kami periksa satu per satu. Ada yang tidak lolos karena STNK mati atau sopirnya tidak punya SIM. Kami ingin memastikan pelajar kita aman di tangan pengemudi yang legal," tegas Widjaja, Senin (24/8/2026).

Sistem yang digunakan pun mengadopsi pola modern, yakni Buy The Service (BTS), serupa dengan mekanisme Bus TransJatim.

Artinya, para sopir angkot tidak perlu lagi kejar setoran atau ngetem terlalu lama. Mereka akan dibayar berdasarkan jarak tempuh operasional harian yang tercatat akurat melalui GPS.

Program ini diproyeksikan menjadi napas baru bagi para sopir angkot di tengah gempuran transportasi daring. Di sisi lain, orang tua siswa bisa sedikit bernapas lega karena beban biaya transportasi sekolah kini ditanggung pemerintah.

Baca Juga: Penggerebekan di Lawang: Polisi Temukan Ribuan Ekstasi Tersembunyi dalam Boneka

Widjaja menargetkan program ini akan tancap gas mulai bulan ini. Rute-rute yang selama ini belum terjangkau oleh bus sekolah, kini akan diisi oleh armada angkot ber-GPS ini.

"Insya Allah bulan ini mulai jalan. Kami prioritaskan rute yang selama ini belum tersentuh bus sekolah, seperti jalur menuju SMP 26 dan SMP 28," tambahnya. (ANTARA)

Load More