- Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang resmi mengolah sampah plastik dan styrofoam menjadi BBM solar sejak 2026.
- Inovasi pengolahan dua kali seminggu ini bertujuan mengurangi volume sampah anorganik yang menumpuk di TPA Supit Urang.
- Solar hasil daur ulang tersebut dimanfaatkan kembali untuk mengisi bahan bakar mesin pengolah dan truk sampah.
SuaraMalang.id - Selama ini, plastik dan styrofoam adalah musuh nomor satu lingkungan, limbah yang sulit terurai dan kerap memenuhi sudut-sudut kota.
Namun, di tangan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, sampah-sampah membandel ini justru diberi napas baru sebagai bahan bakar yang menggerakkan roda operasional kota.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kota Malang kini resmi mengolah sampah anorganik menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Bukan sekadar wacana, inovasi ini telah berdenyut selama dua bulan terakhir di tahun 2026.
"Kalau dulu ada istilah pembatasan plastik, hari ini di Kota Malang plastik dan styrofoam sudah kami olah menjadi solar," ungkap Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, Rabu (29/7/2026).
Langkah ini lahir dari urgensi yang nyata. Bayangkan, setiap harinya Kota Malang memproduksi sekitar 860 ton sampah. Dari angka raksasa itu, 40 persennya adalah sampah anorganik yang sulit hancur.
Inovasi pengolahan solar ini menjadi strategi kunci untuk mencekik volume sampah agar tidak terus-menerus menumpuk di TPA Supit Urang.
Meski belum diproduksi setiap hari karena bergantung pada ketersediaan bahan baku, efisiensi mesin pengolahnya patut diacungi jempol.
Dalam sekali proses, sekitar 200 kilogram plastik dan styrofoam dimasukkan ke dalam empat unit mesin diesel khusus. Hasilnya? Cairan solar sebanyak 120 hingga 130 liter siap digunakan.
"Prosesnya rata-rata dua kali dalam satu minggu," tambah Raymond.
Baca Juga: Jutaan Batang Rokok Ilegal di Malang Disita: Modus Licin Terendus
Menariknya, solar hasil daur ulang ini tidak dibuang percuma. Ia kembali dimanfaatkan untuk menghidupi operasional di lapangan.
Bahan bakar "hijau" ini digunakan untuk menggerakkan mesin pengolahan itu sendiri, hingga mengisi tangki truk-truk pengangkut sampah.
Raymond menceritakan bagaimana solar ini menjadi penyelamat di saat-saat kritis operasional truk.
"Kendaraan yang biasanya bekerja pagi sampai sore, sering kali satu-dua jam sebelum selesai sudah kehabisan solar. Kami manfaatkan hasil olahan ini sebagai tambahan. Meski belum semua, baru satu-dua unit truk yang mencicipinya," tuturnya. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Jutaan Batang Rokok Ilegal di Malang Disita: Modus Licin Terendus
-
Tak Main-Main! 16 SPPG di Malang Gagal Uji Higiene, Ada yang Sampai 4 Kali Revisi
-
Karnaval Tanpa Dentuman: Pemkot Malang Tegas Larang Sound Horeg di HUT RI
-
Fenomena Gunung Es HIV di Malang: Mulai dari Ibu Hamil hingga Anak yang Tertular
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Dukung Danantara Indonesia, BRI Perkuat Transformasi dan Bisnis Produktif
-
Inovasi di TPA Supit Urang: Saat Sampah Plastik Malang Disulap Jadi Solar Pembakar Mesin
-
Sinergi BRI dan KPP: Penyaluran KUR Perumahan Tembus Rp10,6 Triliun
-
Jutaan Batang Rokok Ilegal di Malang Disita: Modus Licin Terendus
-
Tak Main-Main! 16 SPPG di Malang Gagal Uji Higiene, Ada yang Sampai 4 Kali Revisi