Wakos Reza Gautama
Selasa, 16 Juni 2026 | 13:41 WIB
Layangan tarik buatan Ahoed DC Malang berhasil menembus pasar internasional dan menjadi langganan ajang Kejuaraan Dunia Combat Kite di Perancis. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Lucky Maulana asal Karangploso memproduksi seribu layangan Sukhoi untuk kebutuhan Kejuaraan Dunia Combat Kite di Perancis tahun 2027.
  • Produk layangan Sukhoi dikenal memiliki manuver lincah dan struktur bambu kuat berkat proses pengeringan alami yang sangat teliti.
  • Ahoed DC Malang sukses menembus pasar internasional setelah menjalin kerja sama bisnis dengan komunitas pecinta layangan luar negeri.

SuaraMalang.id - Di sebuah bengkel produksi di Karangploso, Kabupaten Malang, ribuan lembar kertas dan rautan bambu tengah disulap menjadi senjata pemutus benang di langit Eropa.

Inilah markas Ahoed DC Malang, produsen layangan tarik lokal yang kini namanya harum di kalangan penghobi combat kite internasional.

Tak tanggung-tanggung, Lucky Maulana, sang nakhoda di balik jenama ini, baru saja menyelesaikan pesanan 1.000 keping layangan untuk dikirim ke Perancis.

Ribuan layangan tersebut dipersiapkan khusus sebagai amunisi dalam ajang bergengsi Kejuaraan Dunia Combat Kite yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 mendatang.

Produk andalan Lucky yang paling diburu kolektor mancanegara adalah jenis Sukhoi. Nama ini bukan sembarangan diberikan.

Terinspirasi dari jet tempur Rusia, layangan Sukhoi karya Lucky memiliki karakter manuver yang agresif, lincah, namun tetap stabil saat diterjang angin kencang, kualitas yang sangat dibutuhkan dalam duel udara layangan tarik.

Meski menjadi langganan kejuaraan dunia di Perancis, Belanda, hingga Jerman, Lucky tetap mematok harga yang sangat merakyat, yakni hanya Rp7.000 per buah.

Namun, jangan terkecoh dengan harganya yang murah. Di balik selembar kertas itu, tersimpan ketelatenan luar biasa.

"Kuncinya ada pada rangka. Saya hanya menggunakan bambu petung yang melalui proses pengeringan alami selama 6 sampai 7 bulan. Ini yang membuatnya jauh lebih awet dan kuat dibandingkan layangan biasa," ungkap Lucky, Selasa (16/6/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Baca Juga: Wajah Baru Pasar Induk Gadang Ditarget Rampung Lebih Cepat

Darah pengrajin layangan mengalir deras di tubuh Lucky. Usaha ini merupakan warisan turun-temurun yang dirintis sang ayah sejak tahun 1960 di Pandaan, Pasuruan.

Lucky kemudian mengepakkan sayapnya sendiri di Singosari pada 1992, sebelum akhirnya menetap di rumah produksi yang lebih besar di Karangploso.

Jalan menuju pasar ekspor terbuka lebar berkat sebuah pertemuan tak terduga di Bali beberapa tahun silam. Saat mengikuti turnamen nasional, Lucky bertemu dengan komunitas pecinta layangan internasional dari Belanda, Perancis, hingga Hong Kong.

Terpikat dengan kualitas "Sukhoi" Malang, komunikasi pun berlanjut menjadi jaringan bisnis yang rutin memesan produknya hingga kini.

Load More