- Lucky Maulana asal Karangploso memproduksi seribu layangan Sukhoi untuk kebutuhan Kejuaraan Dunia Combat Kite di Perancis tahun 2027.
- Produk layangan Sukhoi dikenal memiliki manuver lincah dan struktur bambu kuat berkat proses pengeringan alami yang sangat teliti.
- Ahoed DC Malang sukses menembus pasar internasional setelah menjalin kerja sama bisnis dengan komunitas pecinta layangan luar negeri.
SuaraMalang.id - Di sebuah bengkel produksi di Karangploso, Kabupaten Malang, ribuan lembar kertas dan rautan bambu tengah disulap menjadi senjata pemutus benang di langit Eropa.
Inilah markas Ahoed DC Malang, produsen layangan tarik lokal yang kini namanya harum di kalangan penghobi combat kite internasional.
Tak tanggung-tanggung, Lucky Maulana, sang nakhoda di balik jenama ini, baru saja menyelesaikan pesanan 1.000 keping layangan untuk dikirim ke Perancis.
Ribuan layangan tersebut dipersiapkan khusus sebagai amunisi dalam ajang bergengsi Kejuaraan Dunia Combat Kite yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 mendatang.
Produk andalan Lucky yang paling diburu kolektor mancanegara adalah jenis Sukhoi. Nama ini bukan sembarangan diberikan.
Terinspirasi dari jet tempur Rusia, layangan Sukhoi karya Lucky memiliki karakter manuver yang agresif, lincah, namun tetap stabil saat diterjang angin kencang, kualitas yang sangat dibutuhkan dalam duel udara layangan tarik.
Meski menjadi langganan kejuaraan dunia di Perancis, Belanda, hingga Jerman, Lucky tetap mematok harga yang sangat merakyat, yakni hanya Rp7.000 per buah.
Namun, jangan terkecoh dengan harganya yang murah. Di balik selembar kertas itu, tersimpan ketelatenan luar biasa.
"Kuncinya ada pada rangka. Saya hanya menggunakan bambu petung yang melalui proses pengeringan alami selama 6 sampai 7 bulan. Ini yang membuatnya jauh lebih awet dan kuat dibandingkan layangan biasa," ungkap Lucky, Selasa (16/6/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Baca Juga: Wajah Baru Pasar Induk Gadang Ditarget Rampung Lebih Cepat
Darah pengrajin layangan mengalir deras di tubuh Lucky. Usaha ini merupakan warisan turun-temurun yang dirintis sang ayah sejak tahun 1960 di Pandaan, Pasuruan.
Lucky kemudian mengepakkan sayapnya sendiri di Singosari pada 1992, sebelum akhirnya menetap di rumah produksi yang lebih besar di Karangploso.
Jalan menuju pasar ekspor terbuka lebar berkat sebuah pertemuan tak terduga di Bali beberapa tahun silam. Saat mengikuti turnamen nasional, Lucky bertemu dengan komunitas pecinta layangan internasional dari Belanda, Perancis, hingga Hong Kong.
Terpikat dengan kualitas "Sukhoi" Malang, komunikasi pun berlanjut menjadi jaringan bisnis yang rutin memesan produknya hingga kini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Wajah Baru Pasar Induk Gadang Ditarget Rampung Lebih Cepat
-
Datang Sendiri ke Kantor Polisi, Pengasuh Ponpes di Malang Resmi Tersangka Pelecehan
-
Gus Thuba Pimpin Penyegelan 3 Ponpes di Malang Usai Skandal 20 Tahun Terkuak
-
Sengkarut Data Alamat di Hari Pertama SPMB Malang 2026
-
Gus Thuba Kawal Santriwati Polisikan Oknum Pengasuh Yayasan Cabul