SuaraMalang.id - Sepanjang Tahun 2024, Kabupaten Malang dilanda banyak bencana alam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 188 kejadian bencana yang terjadi hingga pertengahan Bulan Desember ini.
Hampir semua kecamatan tak luput terkena bencana pada Tahun 2024. Paling banyak ialah di Kepanjen yang telah terjadi 14 kali, Lawang 11 kejadian, Pakisaji dan Pagak masing-masing mengalami 9 kejadian.
Pos Komando Penanggulangan BPBD Kabupaten Malang mencatat, bencana paling sering terjadi adalah tanah longsor sebanyak 38 kali atau titik. Kemudian cuaca ekstrem, seperti banjir, air meluap, angin kencang, juga ombak tinggi sedikitnya 67 kali sampai November 2024.
Sisanya berupa getaran gempa sebanyak 26 kali, kebakaran hutan dan lahan 18 kali/titik, dan banjir genangan (12 titik).
Dilansir dari TIMES Indonesia--partner Suara.com, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan mengatakan, akibat bencana tersebut 14 unit infrastruktur dan 15 fasilitas umum rusak. Termasuk 5 unit gedung/bangunan fasilitas pendidikan.
Sementara itu, satu orang dilaporkan menjadi korban meninggal dunia akibat bencana alam, dengan ratusan warga lainnya terdampak.
Tidak hanya bangunan, bencana juga merendam 53.375 hektare lahan pertanian.
Sadono menyebut intensitas bencana alam yang cukup tinggi di Kabupaten Malang tersebut harus diimbangi dengan upaya mitigasi dan prasarana antisipasi dini kebencanaan.
Salah satunya dengan penyediaan peralatan early warning system (EWS) sebagai penanda awal bencana.
Baca Juga: Tutup Total, Ini Titik Longsor di JLS Kelok 9 Donomulyo Malang
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang, Zainudin menyampaikan, sistem peringatan bencana masih perlu pengembangan.
"Namun demikian, efektivitas peringatan dini kerap terkendala kurangnya infrastruktur dengan teknologi mutakhir dan kesadaran kita bersama, akan pentingnya fasilitas peringatan dini ini atau EWS," kata Zainudin, Rabu (11/12/2024).
Hingga saat ini sudah ada 11 unit EWS yang ada di Kabupaten Malang. Seluruhnya merupakan bantuan dari sejumlah instansi.
Alat tersebut dua di antaranya di wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan sebagai peringatan dini gelombang tsunami di Pantai Tamban Tambakrejo. Kemudian alat deteksi banjir bantuan USAID, yang ditempatkan di Desa Sitiarjo Sumbermanjing Wetan.
Pihaknya menyebut sudah membuat langkah antisipasi, seperti peta rawan bencana, pembentukan desa tangguh bencana, dan penyusunan prosedur tetap untuk penanganan darurat akibat bencana.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- KPK Ungkap Riwayat Tanah Kavling Pesantren Darul Istiqamah Maros, Minta Hak Warga Dituntaskan
- Cegah Papua Jadi 'Sudan Kedua', Pemerintah Diminta Tarik Pendekatan Militeristik dan Buka Dialog
- 5 Eye Cream Kemasan Jar untuk Bikin Area Mata Tampak Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
Terkini
-
BRI Perkuat Pembiayaan Perumahan, KPP Capai Rp12 Triliun hingga September 2026
-
Boost Harimu, Nikmati Hemat 25% dengan BRI Kartu Kredit
-
Datang Jadi Saksi, Pulang Masuk Bui: Pak Dur Ditahan Usai Cekcok dengan Anggota DPRD Malang
-
Indonesia Sports Industry of the Year 2026 Diraih BRI, Bukti Konsistensi Dukung Olahraga Nasional
-
Persiapkan Masa Pensiun, BRI Hadirkan Kemudahan Buka DPLK lewat BRImo