Setelah itu, dimulailah pementasan tari seblang yang dibuka oleh gambuh. Penari seblang sudah dirias dan siap untuk menjalankan tugas. Uniknya, penari Seblang di Bakungan akan diolesi atal, tepung dari batu halus berwarna kuning di sekujur tubuh dan wajahnya.
Setelah siap, dengan iringan dari nyanyian para wanita setempat. Mata penari akan ditutupi dengan kedua tangan sesepuh desa ketika menuju area pertunjukan. Saat itu pula, penari dibekali tempeh atau nampan bambu yang berbentuk bulat.
Sambil membaca mantra dan memanggil nama leluhur yang dipercaya sebagai penjaga desa gambuh mengasapi sang penari dengan dupa. Setelah sang penari kesurupan alias tak sadarkan diri (kejiman dalam istilah lokal) tampah yang dipegang penari akan terjatuh, hal itu lah yang menjadi tanda dimulainya pertunjukan Seblang.
Penari seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam, dan mengikuti arah sang gambuh, serta irama gending yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari, penampilan inipun mirip seperti adegan Ayu menari untuk Badarawuhi dalam film KKN di Desa Penari yang viral baru-baru ini.
Dalam pertengahan pertunjukan, si seblang akan melempar selendang ke arah penonton. Siapapun penerima selendang tersebut harus mau menemani si seblang untuk menari bersama didepan. Jika penerima selendang tidak mau dan menolak, maka dia akan dikejar-kejar oleh seblang sampai mau menari.
Di sesi akhir tarian, penari akan membagikan bunga yang ditancapkan pada lidi, yakni Kembang Dermo yang dianggap dapat mendatangkan kemakmuran.
Bagi masyarakat asli Suku Osing, ritual seblang merupakan wujud syukur atas keberhasilan dalam masa panen raya. Sementara itu, tari Seblang ini juga diyakini sebagai wujud pantulan kekuatan bawah sadar yang lahir dari rasa takut dan hormat terhadap kekuatan di luar manusia.
Seblang memiliki filosofi menghilangkan pengaruh buruk. Karena itu, Gerakan tangan yang dilakukan oleh penari seperti membuang tangan ke kanan dan ke kiri. Karena, seblang ini menurut bahasa Osing merupakan singkatan dari Sebele Ilang (hilang sialnya), sehingga gambaran mengusir semua hal yang tidak menyenangkan seperti penyakit dan bala-bala agar hilang serta digantikan dengan kemakmuran.
Baca Juga: Kisah Susi Susanti Sang Penari Seblang Tradisi Selamatan Warga Banyuwangi
Berita Terkait
-
Terungkap! Perekam Pria Onani di Banyuwangi Gadis 17 Tahun, Terpaksa Merekam Sebab Merasa Terintimidasi
-
Selain Banyuwangi, Aksi Pria Onani juga Meneror Wanita di Probolinggo
-
Pria yang Onani di Depan Pendopo Banyuwangi Beraksi Lagi, Kali Ini Lokasinya Berbeda
-
BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau di Banyuwangi Terjadi Agustus-September Nanti
-
Sorotan Kemarin: Heboh Guru SD di Banyuwangi Kencani Siswinya Berujung Pidana hingga Arema FC Kalahkan Borneo FC
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Raih Empat Penghargaan Pada 2026, BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun
-
Rencana Rusuh Demo di Balai Kota Malang Digagalkan, 12 Penyusup Bawa Molotov & Positif Narkoba
-
Kakek Pembuang Puntung Rokok Jadi Tersangka Kebakaran TPA Supit Urang
-
Emil Dardak Turun Tangan! Akankah Bus Transjatim Akhirnya Tembus Terminal Arjosari?
-
Bantai Landak Jawa Pakai Senapan Modifikasi, Dua Pemburu Liar Diciduk di Hutan Malang