SuaraMalang.id - Dosen Universitas Jember berinisial RH meminta dibebaskan dari dakwaan perkasa kasus dugaan pencabulan anak di bawah umur. Hal itu disampaikan dosen Unej dalam pembacaan pledoi di Pengadilan Negeri Jember, Jawa Timur, Selasa (2/11/2021).
Permintaan dibebaskan dari jerat hukum itu dibenarkan kuasa hukum atau pengacara RH, Freddy Andreas Caesar.
“Dasar kami meminta bebas, dari berbagai kesaksian yang dihadirkan dalam persidangan, kami menilai semua saksi masuk kategori saksi testimonium de auditu. Karena testimonium de auditu itu, wajar bagi kami meminta bebas,” katanya mengutip dari Beritajatim.com media jejaring Suara.com, Rabu (3/11/2021).
Seperti diberitakan, RH didakwa dengan pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak karena mencabuli anak yang menjadi perwaliannya.
RH juga didakwa dengan Pasal 45 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), karena korban mengalami stres tingkat sedang. Jaksa menuntut hukuman delapan tahun penjara subsider enam bulan penjara dan denda Rp 50 juta.
Freddy melanjutkan, testimonium de auditu adalah kesaksian karena mendengar dari orang lain.
“Saksi dalam KUHAP diartikan melihat dan mendengar sendiri. Tahu sendiri, bukan ‘katanya’. Kalau ‘katanya’ bukan saksi yang keterangan patut dipertimbangkan. Karena saksinya tidak melihat dan mendengar sendiri, maka kami anggap masuk dalam kategori testimonium de auditu,” urainya.
Kasus pencabulan itu terjadi pada akhir 2020 di rumah terdakwa, tapi baru dilaporkan pada Februari 2021 oleh orang tua korban. Kronologinya, terdakwa berpura-pura menunjukkan teknik pemyembuhan penyakit sebagai modus pencabulan. Pencabulan terjadi dua kali.
Aksi pencabulan kedua, korban merekam kejadian dengan meletakkan HP di bawah bantal, sehingga apa yang dibicarakan tersangka pada korban dapat direkam.
Baca Juga: JPU Hadirkan Tiga Saksi dalam Sidang Kasus Pencabulan Terdakwa Dosen Unej
Freddy mengatakan, rekaman itu sempat disinggung dalam persidangan karena menjadi barang bukti.
“Tapi barang bukti itu tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada petunjuk atau dikuatkan dengan alat bukti yang lain. Petunjuk yang menguatkan atau alat bukti yang bisa menguatkan barang bukti tersebut ini tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, baik dari keterangan ahli dan sebagainya,” katanya.
Freddy mengatakan keterangan ahli yang dihadirkan dalam persidangan bisa dipatahkan.
“Karena tidak sesuai dengan prosedur yang diatur dalam KUHAP dan regulasi-regulasi yang lain,” katanya. Sidang akan dilanjutkan pada Kamis (4/11/2021) dengan agenda pembacaan replik atau tanggapan jaksa atas pledoi terdakwa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Netanyahu Siap Gunakan Bom Nuklir? Eks Kolonel AS Lawrence Wilkerson Bongkar Skenario Kiamat Iran
- 10 Singkatan THR Lucu yang Bikin Ngakak, Bukan Tunjangan Hari Raya!
- 35 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 11 Maret 2026: Klaim MP40, Diamond, dan Sayap Ungu
Pilihan
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
-
Detik-Detik Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
-
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
Terkini
-
BRI KKB: Kredit Mobil dan EV Makin Mudah, Cukup Lewat BRImo dengan Cicilan Stabil
-
BRI Imlek Prosperity 2026: Strategi Finansial Baru Sambut Tahun Kuda Api
-
Libur Nyepi dan Lebaran 2026, Wisata Malang hingga Kota Batu Dipastikan Aman dan Nyaman
-
Mudik dan Liburan Lebaran Lebih Hemat dengan Promo Spesial BRI Ramadan
-
Polresta Malang Pantau Stok Bahan Pokok Jelang Lebaran 2026, Ini Hasil Temuannya