SuaraMalang.id - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Jember tidak merekomendasikan pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan dalam waktu dekat ini, lantaran pandemi Covid-19 dinilai masih mengkhawatirkan.
Seperti diberitakan, Pemkab Jember bakal melakukan uji coba PTM, Jumat (9/4/2021). Ada dua sekolah yang akan jadi pilot project, yakni SDN Sumbersari 02 dan SMPN 7 Jember. Namun, rencana itu menuai kecemasan dari pakar, salahsatunya IDI.
Ketua IDI Jember Alfi Yudisianto mengatakan, kecemasan pihaknya bukan tanpa alasan. Sebab, positivity rate dari yang diperiksa swab dibanding yang positif, itu masih di atas lima persen.
"Jember direkomendasikan untuk tatap muka, karena positivity rate dari yang diperiksa swab dibanding yang positif, itu masih di atas lima persen. Syaratnya kan harus di bawah lima persen," katanya dikutip dari Beritajatim.com jaringan Suara.com, Kamis (8/4/2021).
Meski angka kasus positif Jember rendah, namun hal itu diduga akibat minimnya pelacakan (tracing).
“Angka positif Jember memang rendah. Tapi yang di-swab kelihatannya juga rendah. Saya tidak bisa mengunngkap data, karena saya IDI. Yang berhak mengungkap data adalah instansi terkait,” sambungnya.
Selain positivity rate, lanjut Alfi, Jember juga belum memenuhi syarat tentang fatality rate.
“Fatality rate ini jumlah kematian dibandingkan jumlah kasus. Dengan jumlah kasus yang dulunya ratusan, yang meninggal empat sampai lima. Dengan jumlah kasus yang puluhan, ternyata masih ada yang meninggal satu sampai dua. Ini berarti fatality rate masih tinggi. Ini harus ditekan. Boleh kasus aktifnya rendah, tapi kasus yang meninggal seharusnya sudah hilang,” urainya.
IDI menekankan agar pemerintah lebih fokus tentang mitigasi Covid-19 melalui penerapan protokol kesehatan secara personal.
Baca Juga: Duh, Guru Sekolah Korban Ikut Intimidasi Kasus Pelecehan Seksual Dosen Unej
“Kita lihat kesadaran masyarakat terhadap protokol kesehatan di Jember masih rendah,” katanya.
Namun, jika pembelajaran tatap muka memang diterapkan di sekolah karena tuntutan masyarakat yang tinggi, maka IDI meminta pemerintah meningkatkan tracing, testing, dan treatment.
“Kita jangan ragu dalam hal tracing. Kalau uji coba (pembelajaran tatap muka) disiapkan, maka kita harus menyiapkan tracing jika ada kasus positif di sekolah tersebut,” katanya.
Pemerintah, lanjut dia, sebaiknya tidak ragu-ragu menggelar tracing.
“Sehingga kita benar-benar tahu bahwa persentasenya (positivity rate) memang rendah atau tidak,” imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- Wapres RI Mundur Saat Ekonomi Bergejolak, Hubungan Dengan Presiden Memburuk
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Wajah Kencang dan Awet Muda
- Rudal Houthi Ancam Piala Asia 2027 di Arab Saudi: AFC Bungkam, Jepang Resmi Mundur dari Turnamen
Pilihan
-
Asap Karhutla Hari Ini Sudah Sampai Jakarta dan Banten!
-
Maruli Simanjuntak Disebut Dilantik Prabowo Jadi Wakil Panglima TNI, Kamis Sore Ini
-
Kompak Berpakaian Dinas Lengkap Sambangi Istana, Perwira Tinggi TNI Siap Dilantik Prabowo
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
Terkini
-
Bukan Sekadar SUV, Hyundai Tawarkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Bebas Khawatir
-
Bangun Fondasi Ekonomi dari Desa, BRI Optimalkan BRILink Agen untuk Dukung Koperasi Merah Putih
-
Dari Pesisir Malang Menembus Bursa Karbon Dunia: Hutan Mangrove CMC Siap Menjaring 'Cuan Biru'
-
Bulan Inklusi Keuangan 2026, BRI Perkuat Akses Layanan Keuangan Lewat 1,06 Juta BRILink Agen
-
Dicekal di Pintu Pesawat Saat Hendak Umrah, Kiai Marzuqi Curiga Ada yang Pesan ke Intelijen Saudi