- Clungup Mangrove Conservation di Malang disiapkan menjadi pionir perdagangan karbon sukarela berbasis komunitas nasional.
- Kawasan hutan bakau tersebut memiliki potensi penyerapan karbon raksasa hingga hampir sepuluh ribu ton.
- Otoritas Jasa Keuangan menyatakan unit karbon biru mangrove sangat diburu korporasi karena berkualitas paling tinggi.
SuaraMalang.id - Pelestarian hutan bakau kini tak lagi sekadar aksi sukarela menjaga garis pantai dari abrasi. Di pesisir selatan Jawa Timur, ekosistem mangrove tengah ditransformasikan menjadi motor ekonomi baru masyarakat pesisir melalui instrumen perdagangan karbon sukarela (voluntary carbon market).
Adalah Clungup Mangrove Conservation (CMC) di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, yang kini disiapkan menjadi pionir nasional perdagangan karbon berbasis komunitas.
Berdasarkan kajian akademis, kawasan ini menyimpan potensi penyerapan karbon raksasa hingga hampir 10.000 ton CO2 ekuivalen (tepatnya 9.400 ton CO2e gabungan biomassa atas dan bawah tanah).
Peluang emas ini mengemuka dalam forum dialog "Merawat Bumi Pertiwi Berdampak Ekonomi: Healthy Mangrove, Stronger Community, Blue Carbon Future" di Pantai Teluk Asmara, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga:Dicekal di Pintu Pesawat Saat Hendak Umrah, Kiai Marzuqi Curiga Ada yang Pesan ke Intelijen Saudi
Anggota DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, menegaskan bahwa CMC memiliki modal ekologis dan sosial yang kuat untuk mengonversi oksigen menjadi instrumen bernilai ekonomi.
Pengelolaan CMC bertumpu pada formula 3C yakni Conservation (konservasi), Conversation (dialog), dan Community (komunitas).
“Kredit karbon biru (blue carbon) dari mangrove ini sangat premium. Pasarnya sangat terbuka, bahkan korporasi teknologi raksasa asal Amerika Serikat yang berkomitmen pada target nol emisi siap menyerapnya. Kita dorong OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memfasilitasi CMC agar generasi muda pesisir bisa menjaga bumi sekaligus memetik lapangan kerja bernilai tinggi,” tegas Andreas.
Gagasan ini disambut positif oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa salah satu kendala Bursa Karbon Indonesia sejak diluncurkan September 2023 adalah kelangkaan pasokan unit karbon berkualitas.
“Unit karbon biru dari mangrove memiliki kualitas tertinggi dan paling diburu pembeli korporasi. Keterlibatan komunitas seperti CMC akan menjadi angin segar untuk memasok bursa karbon nasional,” jelas Hasan.
Baca Juga:Misi Arema FC Putus Tren Imbang: Siapkan Formula Jinakkan Playmaker Anyar Bhayangkara FC
Pemerintah sendiri telah memperkuat payung hukumnya melalui POJK Nomor 10 Tahun 2026. Regulasi ini mempermudah pencatatan unit karbon pada Sistem Registri Unit Karbon Nasional (SRUK) di Kementerian Lingkungan Hidup sebelum diperdagangkan secara resmi di bursa.
Namun, Hasan memberi catatan penting bahwa potensi 10 ribu ton karbon tersebut harus melewati fase verifikasi dan sertifikasi ulang sesuai standar mutakhir, bukan sekadar hitungan di atas kertas.
Peluang monetisasi karbon ini sejatinya adalah puncak dari perjuangan panjang warga lokal. Pelopor konservasi CMC, Saptoyo, mengenang awal mula aksi mandirinya menghijaukan Pantai Clungup pada 2005 silam melalui Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru.
Bermula dari petak mungil seluas 5,5 hektare, konsistensi selama dua dekade sukses menyulap kawasan tandus menjadi lebih dari 100 hektare hutan mangrove rimbun pada 2026.
Sebanyak 81 hektare di antaranya merupakan zona inti mangrove yang terbagi di klaster Clungup Barat, Clungup, dan Kondang Buntung.
Kini, CMC tak hanya menjadi benteng ekologis dan destinasi ekowisata berbasis pembatasan kuota pengunjung, melainkan bersiap melompat ke pasar bursa komoditas hijau.