- Dinas Kesehatan Kota Malang memperketat pengawasan terhadap 87 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di wilayahnya.
- Sebanyak 16 dapur masuk zona merah karena gagal memenuhi standar Sertifikat Laik Higiene Sanitasi minimal 80.
- Tindakan tegas ini diambil setelah muncul dugaan kasus keracunan makanan di salah satu sekolah Kota Malang.
SuaraMalang.id - Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Malang kini tengah memperketat pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar makanan yang sampai ke tangan siswa benar-benar aman dan higienis.
Hingga kini, dari total 87 titik SPPG yang tersebar di seantero Kota Malang, baru 71 dapur yang berhasil mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sementara itu, 16 dapur lainnya masih terjebak dalam zona merah karena gagal memenuhi standar kesehatan.
Kepala Diskes Kota Malang, Husnul Muarif, menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan toleransi bagi pengelola dapur yang bermain-main dengan kebersihan.
Untuk mendapatkan rekomendasi SLHS, sebuah dapur harus melewati Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dengan nilai minimal 80.
Baca Juga:Karnaval Tanpa Dentuman: Pemkot Malang Tegas Larang Sound Horeg di HUT RI
"Ada 16 SPPG yang rekomendasinya belum keluar. Kami sudah lakukan inspeksi, namun mereka belum memenuhi indikator minimal," ujar Husnul saat ditemui di Gedung DPRD Kota Malang, Senin (27/7/2026).
Ketidakmampuan memenuhi standar ini bukan tanpa alasan. Diskes menyoroti beberapa titik kritis yang sering diabaikan, mulai dari kualitas air yang mengandung zat kimia atau mikrobiologi berbahaya, cara pengolahan makanan, hingga kompetensi petugas penjamah makanan yang wajib memiliki pelatihan khusus.
Prosesnya tidak main-main. Sampel air dan makanan yang sudah jadi dikirim langsung ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk dipreteli secara ilmiah. Jika ditemukan bakteri atau kandungan kimia yang tak sesuai syarat, rekomendasi langsung ditahan.
Husnul menceritakan betapa ketatnya proses ini hingga ada pengelola dapur yang harus jatuh bangun memperbaiki fasilitas mereka.
"Kami lakukan visitasi ulang dan tunjukkan mana titik kritisnya. Bahkan, ada teman-teman (pengelola dapur) yang sampai empat kali melakukan uji ulang karena belum lolos juga," tambahnya.
Baca Juga:Fenomena Gunung Es HIV di Malang: Mulai dari Ibu Hamil hingga Anak yang Tertular
Ketegasan Diskes ini juga menjadi jawaban atas kekhawatiran publik pasca munculnya dugaan kasus keracunan di salah satu sekolah beberapa waktu lalu.
Husnul memastikan pihaknya telah bergerak cepat mengambil sampel menu MBG di sekolah tersebut untuk diperiksa secara mendalam. Ironisnya, dapur yang terlibat dalam insiden tersebut sebenarnya sudah memiliki rekomendasi SLHS. (ANTARA)