Malam Jahanam di Pintu 13, Cerita Detik-detik Jelang Tragedi Kanjuruhan dari Luar Tribun

Berselang sekira 15 menit, teriakan dan erangan dari Pintu 13 Stadion Kanjuruhan terdengar dari warung yang berada tak jauh dari gerbang menuju tribun penonton.

Chandra Iswinarno
Rabu, 05 Oktober 2022 | 22:54 WIB
Malam Jahanam di Pintu 13, Cerita Detik-detik Jelang Tragedi Kanjuruhan dari Luar Tribun
Gerbang 13 Stadion Kanjuruan menjadi saksi bisu berjatuhannya Aremania-Aremanita. [Suara.com/Dimas Angga]

"Waktu itu sudah ada yang meninggal di luar, tapi langsung di bawa petugas," ungkap Fathur.

Dalam ingatannya, banyak suporter yang dimasukan di dalam kedainya, sehingga kedai miliknya layaknya barak kesehatan di Medan pertempuran.

Kondisi pada waktu itu masih cukup ramai dengan erangan-erangan suporter yang tergeletak di dalam dan di luar kedai. Fathur bahkan sempat menggoyang-goyang tubuh beberapa suporter yang tak sadarkan diri.

Usai membantu para korban dengan cara yang mereka bisa, Fathur dan Anis akhirnya memutuskan menutup kedainya setelah korban di sekitar kedai dan Gate 13 berkurang.

Baca Juga:Kengerian di Pintu 13 Oleh Sulastri: Sang Suami Berkorban Demi Cucu (Part 2)

***

Gas air mata yang ditembakan ke arah tribun di Stadion Kanjuruhan usai pertandingan Super Derbi Jatim, Arema Malang Vs Persebaya pada Sabtu malam itu tak pernah dibayangkan Diah.

Perempuan yang membuka usaha warung di sekitar Stadion Kanjuruhan itu tak menyadari, jika malam itu akan tercatat dalam sejarah paling kelam sepak bola Indonesia.

"Penuh banget di sini kemarin mas," kata Diah saat ditemui Suara.com beberapa waktu lalu.

Warung yang menjadi tempat bergantungnya hidup Diah itu berada tepat di bawah tribun, berjarak sekitar 100 meter dari ruang VIP. Ukurannya tak besar, hanya satu petak. Berukuran sekitar 6x9 meter persegi saja. Di warung itu, Diah tinggal bersama seorang anak perempuannya yang sudah remaja.

Baca Juga:Sempat Disebut Diculik, LPSK Minta Kelpin Perekam Kengerian di Pintu 13 Kanjuruhan Ajukan Perlindungan

Malam itu, Diah menceritakan, suasana di luar stadion sangat kacau. Melihat gelagat itu, secepat kilat ia menutup warungnya. Namun, beberapa suporter Arema memohon kepadanya untuk bisa berlindung di dalam warung lantaran sudah tak tahan dengan gas air mata dari dalam stadion.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini