Sementara itu, data seismograf juga berhasil mendeteksi adanya seismisitas akibat erupsi pada pukul 14.50 WIB di hari yang sama dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 5.160 detik.
Berdasar hal itu, terindikasi adanya erupsi yang langsung terjadi pasca terjadinya guguran material vulkanik akibat pengurangan tekanan di lapisan bagian atas Gunung Semeru.
"Erupsi ini terjadi pada skala kecil, dengan getaran seismisitas tidak terlalu dirasakan warga," ujarnya.
Meskipun material runtuhan sebagian besar berasal dari endapan material vulkanik dari erupsi sebelumnya dan bukan material yang baru keluar akibat erupsi besar, material tersebut tetap menyimpan panas dengan suhu yang tinggi.
Baca Juga:Terungkap Siapa Sosok Meninggal Berpelukan Bersama Rumini saat Erupsi Gunung Semeru
"Panas itu masih ada, karena ketebalan endapan material yang masif," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, memang sejak awal material keluar dari perut bumi, panasnya mencapai suhu yang sangat tinggi, yaitu di sekitar 300-700 derajat Celcius.
Sehingga saat endapan material vulkanik runtuh, awan panas yang menyertai bersuhu sekitar 200-400 derajat Celcius dan masih terdapat pula lahar hujan yang juga bersifat panas.
Berdasar data terkini laporan BNPB, total ada 4.250 jiwa mengungsi akibat erupsi Semeru. Kemudian, 34 orang ditemukan meninggal, 10 di antaranya belum teridentifikasi.
Sumber: Antara
Baca Juga:Anjing Pelacak Diterjunkan Untuk Percepat Pencarian Korban Letusan Gunung Semeru