"Ya diendapkan ke air lombok sehari. Biar nanti ditusuk ke Belanda lukanya bisa membusuk kan pedes dan panas begitu," kata kakek yang memiliki 13 cucu itu.
300-an warga yang siap melawan Belanda itu pun diarahkan untuk membunuh tentara Belanda secara diam-diam. Seperti contohnya, Remin mengatakan, pernah dia dan beberapa warga lainnya membunuh delapan tentara Belanda.
"Sore-sore waktu itu. Paman saya dikeplak sama tentara Belanda pas itu. Jadi saya dan warga lainnya langsung membunuh Belanda secara diam-diam," kata dia.
Delapan tentara Belanda itu, cerita Remin, berada di Desa Pendem. Dia dan sejumlah warga langsung menusuk tentara Belanda satu per satu dengan bambu runcing.
Baca Juga:Dengan Smartphone dan Kartu, Nasabah BRI Bisa Nikmati Promo HUT RI ke-76
"Dan pas mati, satu orang gotong satu warga Belanda dan dibuang ke sungai dan ada yang dikubur," katanya.
Remin pun mengenang, Badjuri memang berjasa besar untuk menyatukan semangat warga Pakisaji untuk memukul mundur tentara Belanda.
"Dan makannya itu dijadikan monumen di Pakisaji," kata dia.
Memang benar sekitar tahun 1954 berdirilah monumen yang menunjukan patung dari Badjuri. Monumen itu terletak di pertigaan Jalan Raya Pakisaji.
Di monumen tersebut terlihat Badjuri memegang senjata laras panjang dan mengenakan pakaian baju hijau khas tentara.
Baca Juga:Sambut HUT RI ke-76, Nasabah Bank BRI Dapat Nikmati Diskon hingga 76%