"Iya bapak saya salah satunya. Dulu kerja di kantor Belanda. Lah bapak saya itu kadang dengar mau operasi di mana dan lalu sepedaan memberitahu tentara begitu," kata dia.
Namun upaya Badjuri pun kadang mempunyai hambatan. Hambatan tersebut adalah Belanda ternyata mempunyai intelijen juga di kalangan masyarakat.
Mata-matanya tersebut adalah Kades Pakisaji waktu itu, Yahmoen. Yahmoen menjadi mata-mata Belanda karena, kata Karmuji, ingin memperkaya diri sendiri.
"Nah mbah Yahmoen itu memberitahu mata-mata begitu. Kades sini dulu. Dia memberitahu keberadaan tentara Indonesia atau rakyat yang meberontak.Akhirnya dari informasi itu Belanda mampu membunuh pemberontak atau tentara Indonesia," ujarnya.
Baca Juga:Dengan Smartphone dan Kartu, Nasabah BRI Bisa Nikmati Promo HUT RI ke-76
Setiap harinya, ada saja warga Pakisaji yang hilang dan meninggal saat tentara Belanda beroperasi.
Mengetahui bahwa Yahmoen adalah seorang penghianat. Badjuri bersama prajurit tentara lainnya menyusun rencana untuk membunuh Yahmoen.
"Mata-matanya di setiap desa ada. Kalau di Desa Pakisaji itu ya Pak Yahmoen. Dan akhirnya dibunuh oleh Badjuri dan tentara itu ya sekitar tahun 1947," kata dia.
Sepeninggal Yahmoen, Belanda geram. Tentara Belanda yang bermarkas di dekat PG Kebonagung mencari siapa otak dari matinya Yahmoen.
Pada pertengahan tahun 1948, pada pagi hari yang normal. Badjuri tidak mengira bahwa hari itu adalah hari terakhirnya menjadi tentara. Dia seperti biasa sedang keliling sekitar Jalan Kauman Desa Pakisaji Kecamatan Pakisaji atau sebelah utara Pakisaji.
Baca Juga:Sambut HUT RI ke-76, Nasabah Bank BRI Dapat Nikmati Diskon hingga 76%
Waktu itu, Badjuri menemukan salah satu tentara Belanda. Dalam pertarungan satu lawan satu, pria yang memiliki paras seperti orang Arab itu menang. Namun, saat detik-detik terakhir kematian tentara Belanda, terdapat suara tembakan.