alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Bupati Banyuwangi: Tidak Perlu Beras Impor

Abdul Aziz Mahrizal Ramadan Senin, 22 Maret 2021 | 20:31 WIB

Bupati Banyuwangi: Tidak Perlu Beras Impor
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas saat membantu petani menyemprot padi [Foto: Rizki Alfian/TIMES Indonesia]

Banyuwangi tidak perlu impor beras. Di sini selalu surplus, bahkan beras Banyuwangi dikirim ke berbagai daerah," kata Bupati Banyuwangi.

SuaraMalang.id - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai tak perlu ada impor beras. Sebab, produksi petani padi di wilayahnya selalu surplus.

Bupati Ipuk menjelaskan, pihaknya telah melakukan perhitungan neraca beras dengan dinas terkait.

Banyuwangi tidak perlu impor beras. Di sini selalu surplus, bahkan beras Banyuwangi dikirim ke berbagai daerah. Kemarin sudah saya rapatkan dengan dinas terkait, kita hitung neraca beras, dan jelas bahwa tidak perlu beras impor masuk daerah ini,” ujarnya, dikutip dari Timesindonesia.co.id media jejaring SuaraMalang.ID, Senin (22/3/2021).

Berdasar data Dinas Pertanian dan Pangan pada 2020, Banyuwangi menghasilkan 788.971 ton gabah kering giling (GKG) atau setara 495.079 ton beras. Sedangkan tingkat konsumsi beras sebesar 165.411 ton. Sehingga pada 2020 terdapat surplus 329.668 ton beras.

Baca Juga: Giliran Penjual dan Petani Cabai Diduga Dicat Diperiksa Polresta Banyuwangi

Pada Januari-Maret 2021, data Dinas Pertanian dan Pangan mencatat, produksi GKG Banyuwangi sebesar 158.892 ton atau setara 99.705 ton beras. Sedangkan tingkat konsumsi Januari-Maret 2021 sebesar 41.415 ton, sehingga terdapat surplus 58.290 ton beras.

”Riset kita, konsumsi beras per kapita warga Banyuwangi sekitar 94,47 kilogram per orang per tahun. Jadi kita sudah hitung, tahun 2021 ini kita targetkan produksi sekitar 491.000 ton beras, lalu tingkat konsumsi sekitar 165.000 ton, maka ada surplus 325.000 ton beras. Dengan surplus yang besar, tentu tidak perlu beras impor masuk Banyuwangi,” urainya.

Ia menambahkan, jika daerah sentra pangan seperti Banyuwangi dimasuki beras impor, dikhawatirkan berakibat turunnya harga gabah petani.

“Kalau beras impor masuk, harga gabah petani bisa semakin tertekan. Makanya kami tidak ingin beras impor masuk Banyuwangi,” ujarnya.

Agar nilai tambah petani meningkat, lanjut dia, sedang didorong pengembangan beras organik. Sejumlah lahan beras organik terus dikembangkan. Pemkab Banyuwangi juga memberi bantuan pupuk organik secara merata ke seluruh kecamatan dan desa.

Baca Juga: Perekam Video Viral Cabai Dicat Dibawa Polisi, Suryati: Cucu Saya Tak Salah

”Dengan beras organik, ada nilai tambah yang bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” tandasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait