SuaraMalang.id - Hasil hitung cepat atau quick count Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 telah hampir rampung dengan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, nomor urut 02, unggul dari dua kandidat lainnya, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Berdasarkan hasil ini, Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, memprediksi terbentuknya format pemerintahan yang seimbang antara eksekutif dan legislatif di Indonesia.
Dalam keterangan persnya, Qodari menilai bahwa PDI Perjuangan (PDIP) akan keluar sebagai pemenang dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 dan menjadi dominan di parlemen.
Ini mengindikasikan potensi komposisi peta politik yang ideal dengan presiden dari Partai Gerindra dan pemenang legislatif dari PDIP.
"Komposisi ini sudah sangat-sangat ideal, dimana kita bisa melihat presiden dari Gerindra dan kemungkinan besar PDI Perjuangan akan menjadi pemenang legislatif," ujar Qodari.
Menurut Qodari, dinamika hasil Pemilu 2024 ini menciptakan 'divided government' di mana legislatif dan eksekutif dikuasai oleh partai yang berbeda, yang berpotensi menguatkan kontrol politik atas pemerintah.
"Dalam divided government, kontrol politik berpotensi menjadi lebih kuat karena pemenang eksekutif dan legislatif itu berbeda," kata Qodari.
Qodari juga menyinggung tentang kemungkinan konstelasi politik dimana presiden dari Gerindra dan Ketua DPR RI bisa jadi dari PDIP atau Golkar, menunjuk kepada Puan Maharani atau Airlangga Hartarto sebagai contoh.
"Ini peluangnya bisa presiden dari Gerindra, ketua DPR RI dari PDI Perjuangan, atau Golkar," tambahnya.
Lebih lanjut, Qodari menjelaskan bahwa perbedaan kepemimpinan antara eksekutif dan legislatif akan menciptakan pemerintahan demokratis yang ideal melalui mekanisme check and balance.
"Ini komposisi yang ideal karena akan terjadi mekanisme check and balance karena eksekutif dan legislatif dimenangkan atau dikepalai oleh partai yang berbeda," jelasnya.
Qodari juga memprediksi bahwa PDIP, di bawah kepemimpinan Megawati, mungkin akan memilih untuk menjadi oposisi murni jika menjadi dominan di legislatif, mengulangi sejarah periode 2004 hingga 2014.
"Boleh jadi PDIP akan menjadi oposisi murni, dimana ketua DPR dari PDIP dan PDIP tidak punya kursi di kementerian," pungkasnya.
Hasil Pemilu 2024 ini menandai momen penting dalam dinamika politik Indonesia, dengan potensi terciptanya pemerintahan yang seimbang dan demokratis melalui interaksi antara partai-partai politik yang berkuasa.
Kontributor : Elizabeth Yati
Berita Terkait
-
Kaesang Pangarep Ucapkan Selamat kepada Prabowo-Gibran atas Kemenangan Versi Quick Count Pilpres 2024
-
Ancang-Ancang 01 dan 03 Kolaborasi, Gugat Kecurangan Pilpres 2024
-
Aria Bima PDIP ke KPU dan Bawaslu: Mainkan Suara Rakyat, Ingat Azab!
-
Update Real Count KPU Jumat Malam: Prabowo-Gibran 57 Persen, Ganjar-Mahfud Belum Bisa 20 Persen
-
Real Count Jumat, Prabowo-Gibran Pertebal Dominasi, Ganjar-Mahfud Tetap Buncit
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Arema FC vs Persik Kediri Jadi Laga Penentuan, Marcos Santos: Harus Menang!
-
Kasus Super Flu Kota Malang Diklaim Terkendali, Seluruh Pasien Sembuh!
-
Wakil Wali Kota Batu Bongkar Teknik Rahasia Komunikasi Politik Dasco
-
Malang Target 3,4 Juta Kunjungan Wisata Selama 2026, Ini Alasannya
-
Konflik Dualisme Yayasan SMK Turen Malang Memuncak, Ribuan Siswa Terpaksa Tak Sekolah