SuaraMalang.id - Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Malang Muhamad Salis Yuniardi mengungkapkan, penyintas Tragedi Kanjuruhan mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma.
Gejalanya, yakni pendiam, menangis, sulit tidur dan sulit makan. Dalam sepekan terakhir, posko Layanan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rata-rata melayani tiga hingga lima orang.
"Klien hampir semua mengarah pada PTSD, stress akibat kejadian traumatis, dimana mereka melihat langsung, mengalami langsung kejadian , kenangan itu sangat menghantui mereka," ujarnya.
Bahkan, lanjut dia, ada seorang klien yang tiba-tiba menangis, berteriak dan berlari. Dekan Fakultas Psikologi UMM ini menambahkan, butuh waktu dua hingga tiga minggu untuk menyembuhkan trauma korban atau penyintas.
Ia melanjutkan, butuh dua tahapan penyembuhan trauma, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
"Kami bantu relaksasi, bantu mindset (penyintas) bagaimana bisa berdamai dengan kenangan buruk itu dan fokus ke masa depannya," jelas dia.
Kisah Penyintas Tragedi Kanjuruhan
Sebelumnya, Budi -bukan nama sebenarnya- mendatangi Posko Layanan Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang, pada Minggu (9/10/2022) sekitar pukul 10.00 WIB.
Dengan tersengal-sengal, pria asal Kota Malang ini berusaha menceritakan kengerian malam Tragedi Kanjuruhan.
Budi merupakan satu dari ribuan Aremania -julukan suporter Arema FC- yang mengalami insiden mengerikan pada Sabtu (1/10/2022) lalu. Kala itu, Ia menonton bersama seorang temannya di tribun VIP Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Singo Edan, julukan Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya Surabaya. Detik-detik menjelang pertandingan berakhir, suasana memanas.
Ia pun memutuskan untuk segera meninggalkan stadion. Namun terjadi antrean di pintu keluar, lantaran banyaknya suporter yang hadir (Tiket pertandingan terjual 42.000 dari kapasitas stadion 45.000), beberapa menit kemudian terdengar ledakan.
"Saya kira petasan, ternyata polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun," ujarnya.
Ia mendengar sedikitnya ada lima kali letupan dari senjata pelontar granat gas air mata.
Lantaran suasana kian kacau, Ia memutuskan untuk bertahan di tribun VIP. Sekitar dua jam kemudian saat suasana kekacauan mereda, Ia keluar ke arah parkiran.
Berita Terkait
-
Bonek Mania Faiz Al Fikry Meninggal di Tragedi Kanjuruhan: Semoga Ini Korban Terakhir setiap Persebaya Bertanding
-
Besok Dirut PT LIB Akhmad Hadian Lukita Diperiksa Sebagai Tersangka Kasus Tragedi Kanjuruhan
-
Kompolnas Serahkan Hasil Investigasi TGIPF soal Tragedi Kanjuruhan ke Kantor Mahfud MD, Apa Temuannya?
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Viral Tampar Siswa di Depan Gerbang, Kepsek SMPN 18 Malang Resmi Dicopot Usai Didemo Massal
-
Gara-Gara Tak Pakai Baju Lurik, Kepsek SMPN 18 Malang Diduga Tampar Siswa 4 Kali dan Ditonjok
-
Nikmati Keseruan Pestapora 2026 Bareng BRImo dengan Ragam Program Spesial
-
Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Resmi Dibuka 26 September, 3.700 Pendaki Prioritas Reschedule
-
Ekstra 27.000 GarudaMiles, Keuntungan Perjalanan untuk Nasabah BRI Prioritas