SuaraMalang.id - Peternak ayam petelur di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur terancam gulung tikar alias bangkrut, lantaran harga telur merosot tajam. Mereka mengaku merugi jutaan rupiah.
Salah satu peternak ayam petelur di Dusun Sumberagung, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Supaat Pribadi (47) ini misalnya.
Dia mengaku rugi hingga Rp 5 juta dalam sebulan. Hal itu dipicu kenaikan harga pakan yang terjadi pada awal September 2021. Sedangkan harga telur anjlok di pasaran. Alhasil mereka kelabakan biaya operasional.
"Untuk harga pakan sendiri dulu Rp 330 ribu per setengah kuintal. Kini naik Rp 18 ribu, menjadi Rp 348 ribu per setengah kuintal," kata Supaat mengutip dari TIMES Indonesia media jejaringan Suara.com, Senin (27/9/2021).
Penurunan harga telur, lanjut dia, terjadi juga pada awal September ini.
"Harga normalnya telur dulu mencapai Rp 20-22 Ribu per kilogramnya. Tapi sekarang jadi hanya Rp 14 Ribu saja," cetusnya.
Supaya tidak menderita kerugian yang sangat besar, Ia harus mencampur sendiri pakan ternak yang akan diberikan pada ayam miliknya. Persisnya, dengan mencampur konsentrat, jagung giling, dan katul dirinya bisa menekan pengeluaran operasional seminimal mungkin.
"Sudah saya coba untuk mengurangi pakan ternak dan hasilnya malah membuat produksi telur menurun drastis, jadi kita malah makin merugi," ungkap Supaat.
Ia menambahkan, biasanya dari 720 ayam petelur miliknya mampu memanen hingga 33 kilogram telur setiap hari. Dengan omzet Rp 16 juta per bulannya, harus menanggung biaya pakan hingga Rp 13 juta setiap bulan.
Baca Juga: Peternak Blitar Bagikan 100 Ekor Ayam dan 1,5 Ton Telur Gratis
"Saat ini dengan panen 33 kilogram setiap hari kita memperoleh omzet sekitar Rp 13 Juta-an. Kami harus melakukan penekanan seminimal mungkin untuk pakannya," kata Supaat.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi Arief Setyawan mengatakan fenomena kenaikan harga pakan yang ada di Banyuwangi berbeda dengan daerah lainnya. Mengingat ketika jagung sebagai bahan pakan ternak juga mengalami kenaikan, peternak di daerah lain mengeluh.
"Fenomenanya ini berbeda, jika di daerah lain itu para peternak mencampur sendiri bahan pakan ternak dengan jagung, sehingga ketika ada kenaikan harga jagung dikarenakan hasil panen jagung tidak mencukupi kebutuhan peternak, mereka bersuara," cetusnya.
Sementara di kabupaten Banyuwangi, ketersediaan jagung masih melimpah, sehingga kenaikan pakan tersebut terjadi karena sebagian besar para peternak masih banyak menggunakan pakan konsentrat.
"Sebagian mereka para peternak ayam petelur di Kabupaten Banyuwangi tidak memanfaatkan jagung sebagai makan ternak dan hanya mengandalkan sentrat. Sementara hasil panen jagung disini masih banyak," kata Arif Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
5 Fakta Mayat Perempuan di Sungai Malang: Korban Ternyata Dibunuh, Gadis 17 Tahun dari Nganjuk!
-
Jadwal Buka Puasa Malang Hari Ini, Senin 23 Februari 2026
-
Waspada Perang Sarung di Kota Malang Saat Ramadan, Ini Daerah Paling Rawan versi Polisi
-
Jadwal Buka Puasa Malang Sabtu 21 Februari 2026, Lengkap dengan Menu Berbuka Terbaik
-
6 Fakta Kasus Penipuan Jual Beli Popok di Lawang Malang Viral, Puluhan Korban Rugi hingga Rp 5 M