SuaraMalang.id - Aktivitas macan tutul di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terekam beberapa kali dalam kamera trap yang dipasang di wilayah seluas 27,14 hektare tersebut.
Meski begitu, Balai Besar TNBTS tidak merinci lokasi keberadaan satwa liar yang nyaris punah tersebut, karena untuk mengantisipasi adanya perburuan liar yang dilakukan pemburu.
"Dari hasil tangkapan kamera trap kami, memang ada," ujar Plt Kepala BB TNBTS Novita Kusuma Wardani di Malang seperti dilansir Times Indonesia-jaringan Suara.com pada Sabtu (5/6/2021).
Diungkapkannya, dengan adanya bukti otentik tersebut menunjukkan habitat macan tutul harus menjadi perhatian semua pihak. Dia juga menjelaskan, hal tersebut seiring dengan masih ada perburuan yang terpantau. Sehingga dengan adanya kamera trap yang dipasang, para pemburu menjadi lebih takut untuk masuk kawasan.
Hingga kini, BB TNBTS sendiri telah memasang sekitar 60 unit lebih kamera trap di kawasan-kawasan tertentu, terutama kawasan yang menjadi perlintasan macan tutul.
Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS Toni Artaka mengatakan, catatan jalur-jalur yang kerapkali menjadi perlintasan Macan tutul tersebut didapat dari laporan masyarakat serta hasil observasi tim di lapangan.
"Sejak 2015 kami rutin melakukan pengamatan melalui kamera trap. Sebelum adanya alat ini, kami hanya memantau dari cakaran, feses / kotoran dan jejak lainnya. Setelah kami punya kamera trap, kami dapatkan foto," jelasnya.
Dia juga merinci, kamera trap yang telah terpasang berhasil menangkap aktivitas macam tutul sebanyak 21 ekor sejak 2015 sampai sekarang.
Terbaru, pada tahun 2020, BB TNBTS memiliki data foto tangkapan kamera trap yang memonitor adanya aktivitas tiga ekor macan tutul. Sedangkan pada tahun sebelumnya, hanya ada seekor macan tutul yang terpantau.
"Data yang kami sampaikan ini adalah data set monitoring. Yang di luar data ini, kemungkinan lebih banyak lagi," ucapnya.
Baca Juga: Populasi Macan Tutul Jawa di Taman Nasional Meru Betiri Bertambah
Toni menjelaskan, di seluruh kawasan TNBTS ada 21 individu yang berbeda baik dari jenis umur hingga jenis kelamin. Untuk mengetahui jenis kelamin apakah jantan atau betina, pihaknya kesulitan.
Lebih lanjut, dia mengatakan dari data tersebut menunjukkan adanya tren positif habitat satwa macan tutul di kawasan TNBTS. Selanjutnya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melindungi ekosistem hutan agar tetap asri dan terjaga. Menurutnya, restorasi ekosistem hutan harus dilakukan. Semua pihak wajib terlibat, baik pemerintah, aktivis lingkungan serta masyarakat secara umum.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Ancaman Cuaca Ekstrem Mengintai, Polres Malang Siagakan 800 Personel Kepung 4 Zona Rawan Bencana
-
Mendekam di Lapas Madiun, Oknum Polisi Polres Batu Resmi Dipecat Usai Terjerat Kasus Penipuan
-
Malang Selatan Dikepung Banjir dan Longsor: Jalur Utama Malang-Lumajang Lumpuh Total
-
Raih Empat Penghargaan Pada 2026, BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun
-
Rencana Rusuh Demo di Balai Kota Malang Digagalkan, 12 Penyusup Bawa Molotov & Positif Narkoba