Scroll untuk membaca artikel
Abdul Aziz Mahrizal Ramadan
Sabtu, 06 Februari 2021 | 06:30 WIB
ilustrasi banjir di Jember akibat luapan Sungai Bedadung. [ANTARA/ Hamka Agung]

SuaraMalang.id - Terungkap penyebab Sungai Bedadung meluap hingga menyebabkan banjir parah di Kabupaten Jember. Lantaran kondisi hulu Sungai Bedadung sedang kritis.

Hal itu diungkap Pakar Lingkungan dan Pertanian, Universitas Jember (Unej) Dr Luh Putu Ayu Suciati. Dijelaskannya, bahwa kondisi kritis itu ada di tutupan lahan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

"Penyebab banjir beberapa waktu lalu karena tutupan lahan di hulu DAS Bedadung terus berkurang, sedangkan masyarakat di tengah dan hilir kurang menyadari pentingnya peran dan fungsi sungai," katanya, dikutip dari ANTARA, Jumat (5/2/2021).

Bahkan, lanjut dia, problem DAS Bedadung di Kabupaten Jember itu cukup kompleks. Maka, menurutnya, perlu semua pihak berperan menyelamatkan lingkungan agar tidak terulang lagi bencana banjir di kemudian hari.

Baca Juga: Wabup Jember Terpilih Gus Firjaun Turun Tangan Geger Masjid Digembok

"Tutupan lahan di hulu DAS Bedadung semakin berkurang, yakni hanya 16,25 persen berdasarkan citra satelit tahun 2018, padahal idealnya 30 persen sesuai dengan UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan," urainya.

Ia menambahkan, berdasar beberapa penelitian yang  dilakukan mahasiswa Universitas Jember, menyatakan bahwa terjadi erosi di kawasan hulu DAS Bedadung. Kemudian ada perubahan fungsi lahan hutan di tiga kecamatan di hulu sungai, yakni Kecamatan Jelbuk, Sumberjambe, dan Panti yang sebagian berada di kawasan lereng Pegunungan Hyang Argopuro.

Pola pertanian masyarakat, masih kata dia, khususnya di kawasan hulu DAS Bedadung juga memiliki peran. Sebab, pola pertanian ladang berpindah dengan tanaman seperti jagung dan padi, tidak mampu menahan resapan air. Terutama saat intensitas hujan tinggi, tidak ada tanaman keras yang bisa menahan air.

"Erosinya cukup tinggi dan ditambah lagi karakteristik tanah di sana berupa lempungan yang tidak bisa menyerap air, sehingga air langsung mengalir ke arah permukiman penduduk," kata Ketua Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Air Pertanian (PSDAP) dan Alam Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Jember ini.

Pada Desember 2020 lalu sebenarnya telah diadakan diskusi dengan Dinas Lingkungan Hidup, Perhutani, Dinas Kehutanan dan pihak terkait lainnya. Dikusi itu bertujuan mengidentifikasi dan mencari solusi persoalan DAS Bedadung dari hulu, tengah, dan hilir. Maka tercetus solusi pola wanatani atau agroforestry.

Baca Juga: Geger Masjid Digembok, Warga Jember Bingung Mau Salat Jumat

Pola pertanian itu merupakan bentuk pengelolaan sumber daya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian yang tetap menjaga kelestarian hutan.

Load More