SuaraMalang.id - Lucinta Luna dan tunangannya, Alan, menjadi tamu dalam episode terbaru podcast Deddy Corbuzier, di mana mereka berbicara tentang rencana pernikahan mereka yang segera digelar.
Namun, salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah klaim Lucinta Luna bahwa dirinya adalah wanita sejak lahir.
“Nih gua perjelas lagi, ini bukan pernikahan sesama jenis. Ini pernikahan antara kaum wanita dengan laki-laki, aku wanita dan dia laki-laki. Perlu gua perjelas?” ungkap Lucinta dengan tegas.
Berkomentar tentang kontroversi yang mengelilingi pernikahannya, Lucinta menegaskan bahwa pernikahannya dengan Alan akan sah secara hukum dan negara, dan siapa pun yang keberatan seharusnya menyalahkan negara.
Baca Juga:Alan Asal Ukraina Pacar Lucinta Luna: Aku Percaya Dia Cewek Sejak Lahir
“Dia ini laki-laki, dan gua wanita. Jadi sah secara hukum dan negara! Kalau mau nyalahin, nyalahin negara!” lanjut Lucinta.
Pernyataan ini tentu saja menjadi sorotan utama, mengingat rumor dan kontroversi yang telah lama mengelilingi status jenis kelamin Lucinta.
Podcast ini menjadi kesempatan bagi Lucinta untuk bicara terbuka dan mengklarifikasi segala isu yang beredar.
Di luar topik pernikahan, Lucinta juga membagikan momen bahagia bersama Alan dan seorang anak laki-laki dalam foto yang dipamerkan di Instagram.
Meski tidak diketahui siapa anak lelaki itu, Lucinta berharap foto tersebut menjadi simbol doa dan harapannya untuk membina rumah tangga yang harmonis bersama Alan.
Baca Juga:Deddy Corbuzier Tanya 'Kamu Tahu Lucinta Luna Transgender?' Alan Langsung Ngamuk
“Bismillah atas izin yang maha kuasa, pancingan semoga doaku terkabul membina rumah tangga yang samawa aamiin. Selalu berusaha tidak mengkhianati hasil,” tulisnya.
Dalam wawancara tersebut, kisah cinta Lucinta dan Alan terungkap lebih dalam, menunjukkan bahwa mereka serius dalam hubungan mereka dan siap menghadapi tantangan apa pun yang datang.
Podcast ini menjadi pembuktian dari dua orang yang mencintai satu sama lain dan berusaha membangun masa depan bersama, meskipun harus menghadapi banyak kontroversi dan prasangka.
Kontributor : Elizabeth Yati