Data penerimaan batu ke DLH juga tercatat oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Malang sebagai kenang-kenangan.
"Kalau kaitan sejarah ini ya sebagai elemen pelengkapnya. Tidak berhubungan dengan nilai-nilai sejarah lingkungan kawasan," ungkapnya.
Indra menjelaskan, batu-batu tersebut diberikan oleh keluarga yang ayahnya pernah bertugas di Malang sebagai pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indische Leger).
Namanya ialah Tonko seperti yang ada di salah satu batu. Pangkat terakhirnya saat bertugas di Malang, yakni Oosterhuis, setara Letnan Muda.
Baca Juga:Satu Lagi Pelaku Pengeroyokan Mahasiswa Unitri Ditangkap Saat akan Kabur ke Luar Negeri
"Dia itu tentara KNIL yang dinas terakhir di Batalyon Infantri 8 di Rampal. Ini KNIL sejak 21 tahun memulai dinasnya di Kalabahi, Kepulauan Alor. Kemudian mutasi ke Waingapu, kemudian ke Cimahi, ke Surabaya, ke Samarinda hingga terakhir ke Malang sampai invasi Jepang dan meninggal di Ambon, karena korban romusha," jelasnya.