Memahami Keris Sebagai Sarana Menuju Kesalehan Berpikir, Bukan Musyrik

Bicara keris, kebanyakan orang akan mengaitkannya dengan hal mistis. Padahal bukan di situ maknanya.

Muhammad Taufiq
Selasa, 02 Agustus 2022 | 15:38 WIB
Memahami Keris Sebagai Sarana Menuju Kesalehan Berpikir, Bukan Musyrik

SuaraMalang.id - Bicara keris, kebanyakan orang akan mengaitkannya dengan hal mistis. Padahal bukan di situ maknanya. Keris merupakan warisan leluhur bangsa Nusantara yang hingga detik ini tetap lestari.

Keris telah membuktikan bahwa ia mampu menahan "hantaman" arus modernisasi, dalam bentuk dan narasi apapun. Selama ini, keris masih dikaitkan dengan hal mistis, supranatural, kuno, sehingga dinilai tidak layak untuk digeluti oleh generasi muda, apalagi kaum milenial.

Bahkan, keris telah masuk dalam bagian narasi negatif dalam kacamata agama. Keris dianggap sebagai benda yang membawa kita pada kemusyrikan atau tindakan menyekutukan Tuhan. Pokoknya, sangat lengkap konotasi negatif yang dilekatkan pada benda yang terbuat dari besi dan baja, kadang dengan campuran batu meteor itu.

Para pencinta keris menggelar sarasehan sebagai upaya untuk melestarikan budaya adiluhung Nusantara itu pada Sabtu (30/7).

Baca Juga:Viral Trik Gus Samsudin Terbongkar, Keris Petir yang Dipakai Ternyata Ada di E-commerce

"Sarasehan Budaya dan Gelar Tosan Aji" yang digelar oleh Paguyuban Tosan Aji Singowulung, Bondowoso, Jawa Timur, itu menghadirkan Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar dan pecinta keris Rachmad Resmiyanto, yang juga dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai pembicara.

Bagi orang Jawa masa dulu, bahkan "Jawi" (sebutan untuk Nusantara kuno), keris adalah perangkat diri yang tidak terpisahkan dalam keseharian. Keris selalu membersamai warga masyarakat di manapun berada. Keris tidak beda dengan perangkat telepon seluler atau ponsel bagi masyarakat modern saat ini.

Kalau saat ini satu orang bisa memiliki lebih dari satu ponsel, leluhur Nusantara dulu minimal memiliki tiga keris, yakni pemberian dari orang tua, pemberian dari mertua bagi yang sudah menikah, dan dari dirinya atau seseorang yang dianggap sebagai guru.

Dalam konteks inilah, keris bagi masyarakat Nusantara kuno dianggap memiliki tuah atau masyarakat mengenalnya sebagai "yoni". Rupanya ihwal inilah yang kemudian memunculkan tuduhan bahwa kalau memiliki keris, kita bisa dituduh jatuh pada syirik.

Kalau negara atau perusahaan mengabadikan doa dalam simbol tertentu (burung yang gagah atau benda-benda langit), mengapa tidak dikatakan syirik? Bukankah dalam simbol-simbol itu tersimpan harapan dan doa? Ini juga termasuk simbol-simbol warna yang di dalamnya juga tertanam energi doa.

Baca Juga:5 Kota Terbaik di Dunia untuk Menjelajah Seni dan Budaya

Tuduhan sebagai perbuatan syirik itu rupanya berangkat dari paradigma sains modern bahwa yang nyata itu hanyalah yang tampak oleh indra, khususnya penglihatan. Sementara masyarakat Nusantara memiliki paradigma bahwa yang tidak tampak oleh indra mata juga sebagai hal yang nyata.

Berita Terkait

Penyanyi dari kategori solo maupun trio wajib menyanyikan lagu-lagu Batak.

pressrelease | 07:55 WIB

Menurut Gus Polen, pameran ini sengaja digelar tanpa ada bursa jual-beli keris dan tosan aji seperti lazimnya.

jogja | 18:10 WIB

LPPM UPI mengundang tokoh agamawan, budayawan dan seniman di Kabupaten Garut dalam acara workshop. Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan sinergitas antara agama, seni dan budaya. Acara tersebut di hadiri oleh wakil Bupati garut, dr. Helmi Budiman dan para tokoh agama, budaya dan seni.

garut | 08:30 WIB

Panggung budaya disuguhkan untuk umum dan gratis.

lifestyle | 09:00 WIB

Cerita tentang keris mpu Gandring begitu melegenda sampai saat ini.

blitz | 21:46 WIB

News

Terkini

Kegiatan ini diyakini dapat memberi kesempatan bagi para pegolf junior untuk bersinar.

News | 19:00 WIB

Mahasiaswa UNS itu tampak tenang melintasi lingkungan kampus sembari mengabadikan momennya bersama sapi tersebut.

News | 15:03 WIB

Seorang Warga Kota Malang menggelar protes dengan cara menumpang mandi di kantor Perumda Tugu Tirta karena aliran air PAM di rumahnya mati.

News | 12:12 WIB

Kepala Desa Ambulu, Jember Mulyono itu meninggal dunia tak lama setelah dievakusi ke rumah sakit pada Minggu (21/5/2023) malam lalu.

News | 12:21 WIB

Ini merupakan bentuk komitmen perseroan dalam melakukan pembangunan bekelanjutan.

News | 15:30 WIB

Pemkot Malang kembali dapat kritikan dari netizen.

News | 15:26 WIB

Warga Hindu Tengger digegerkan dengan hilangnya Patung Ganesha.

News | 15:53 WIB

Manajer Timnas U22 Indonesia Kombes Sumardji didatangi salah satu ofisial Thailand seraya meminta maaf.

News | 16:34 WIB

Jonathan Khemdee, pemain Thailand dengan nomor punggung 4 tertangkap kamera saat melempar medali serta maskot SEA Games Kamboja.

News | 10:46 WIB

Dalam unggahan video tersebut, sang anak dengan hati-hati meminta izin kepada ibunya terkait konser Colplay.

News | 15:21 WIB

Ini untuk mempermudah pengambilan bansos sembako PKH.

News | 10:27 WIB

Wali Kota Sutiaji mengatakan, permasalahan banjir di Kota Malang ditargetkan tuntas pada 2028.

News | 11:25 WIB

Sana'i sendiri merupakan salah satu nama caleg dari NasDem yang maju dari daerah pemilihan (Dapil) Kedungkandang.

News | 18:36 WIB

Ketua DPD NasDem Kota Malang Hanan Jalil mengatakan, pihaknya telah resmi mendaftarkan sejumlah 45 nama bakal calon legislatif dengan komposisi 30 persen perempuan.

News | 15:41 WIB
Tampilkan lebih banyak