Arab Saudi dengan mayoritas populasi Muslim Suni dan Iran dengan Muslim Syiah bersaing untuk mendapatkan pengaruh dalam suatu persaingan yang telah terjadi di seluruh kawasan Timur Tengah dalam peristiwa-peristiwa, seperti perang di Yaman dan di Lebanon.
Pada awal Februari 2022, Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan Teheran siap untuk melakukan lebih banyak perundingan jika Riyadh bersedia melakukan pembicaraan dalam suasana saling pengertian dan saling hormat.
Ketegangan antara kedua negara melonjak pada 2019 setelah serangan terhadap pabrik minyak Saudi yang dituduhkan Riyadh dilakukan oleh Iran, namun tuduhan itu telah dibantah Teheran.
Ketegangan antara Saudi dan Iran terus membara di Yaman di mana koalisi pimpinan Saudi memerangi gerakan Houthi yang bersekutu dengan Iran.
Baca Juga:Gokil! Pertama di Dunia, Arab Saudi Buat Permainan Squid Game Nyata di Riyadh
Pangeran Faisal mengatakan Iran terus menyediakan rudal balistik dan suku cadang pesawat nirawak serta senjata konvensional kepada Houthi, tetapi tuduhan itu dibantah oleh Teheran dan kelompok Houthi.
"Langkah ini tidak berkontribusi untuk menemukan jalan untuk menyelesaikan konflik (di Yaman), tetapi kami berkomitmen dan kami mendukung perwakilan PBB," kata Faisal merujuk pada upaya yang dipimpin PBB untuk gencatan senjata di Yaman. ANTARA