Penting! Ini Rekomendasi Tim ITS Setelah Teliti Erupsi Gunung Semeru

Gunung Semeru meletus pada Sabtu, 4 Desember 2021. Dampat letusan menyebabkan korban yang tidak sedikit. Setidaknya 44 orang tewas dalam bencana itu.

Muhammad Taufiq
Jum'at, 17 Desember 2021 | 20:31 WIB
Penting! Ini Rekomendasi Tim ITS Setelah Teliti Erupsi Gunung Semeru
Foto dampak letusan Gunung Semeru dari udara [Foto: Beritajatim]

Amien menjelaskan lebih lanjut bahwa ancaman lain dari erupsi ini adalah tanah longsor yang bersamaan dengan hujan dan awan panas.

Namun di pos pantau gunung berapi belum memiliki sistem pengamatan tersebut, maka dapat dijadikan penelitian lebih lanjut agar tidak terjadi dampak lain dari erupsi gunung ini.

"Untuk ke depannya bisa dibuat alat sensor warning system terkait longsor dan dimasukkan ke pos pantau agar meningkatkan kewaspadaan aktivitas gunung," ujarnya.

Sementara itu, anggota tim Puslit MKPI Dr Techn Umboro Lasminto ST MSc mengatakan bahwa ada potensi bencana susulan yang dikhawatirkan akibat area penumpukan lahar yang meluas.

Baca Juga:28 dari 44 Jenazah Korban Letusan Gunung Semeru Sudah Diambil Keluarganya

Hal tersebut menyebabkan perubahan arah aliran air sungai, sehingga aliran air tidak terkontrol dan diperparah dengan kondisi hujan yang terjadi hingga bulan April.

Diungkapkannya, terbentuknya arah aliran sungai yang baru bisa mengarah pada permukiman penduduk yang dapat menyebabkan banjir.

"Hal yang harus dilakukan adalah mencari solusi agar arah aliran air kembali pada aliran sungai semula," jelas dosen Teknik Sipil ITS tersebut.

Anggota tim lainnya, M Haris Miftakhul Fajar M Eng mengingatkan bahwa dengan adanya bencana erupsi Gunung Semeru ini bukan saatnya saling menyalahkan, namun saatnya memaksimalkan peran masing-masing stakeholder yang ada.

"Selain itu, kita juga harus evaluasi terkait early warning system, proses mitigasi bencana, dan sosialisasi kepada penduduk," ujarnya.

Baca Juga:Gunung Semeru Naik Status Jadi Level III Setelah Erupsi Kemarin

Untuk early warning system, menurut dosen Teknik Geofisika ITS ini, perlu melengkapi pengamatan visual dengan kamera termal yang bisa menangkap awan panas pada volume yang besar.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini