Riki Chandra
Sabtu, 10 Januari 2026 | 15:32 WIB
Ilustrasi Flu. [Dok. Unplash/Towfiqu barbhuiya]
Baca 10 detik
  •  Kasus superflu Malang terpantau terkendali dan seluruh pasien sembuh.

  • Mayoritas kasus superflu Jawa Timur ditemukan di Kota Malang.

  • Pemeriksaan superflu dilakukan dengan metode whole genome sequencing.

SuaraMalang.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), menegaskan seluruh pasien yang terkonfirmasi influenza A H3N2 Subclaude K atau superflu telah dinyatakan sembuh setelah menjalani pemantauan medis secara intensif.

Kepastian ini disampaikan menyusul hasil pemantauan selama beberapa bulan terakhir terhadap pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan.

Kepala Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif, menyampaikan bahwa kasus superflu terdeteksi secara bertahap sejak September hingga November 2025.

Seluruh pasien yang teridentifikasi telah termonitor dengan baik dan tidak menunjukkan komplikasi lanjutan.

“Satu di September, satu di Oktober, kemudian sisanya di November. Itu (pasien) sudah termonitor terkendali dan dalam kondisi sembuh,” kata Husnul, Sabtu (10/1/2026).

Menurutnya, kasus superflu di Kota Malang juga ditangani dengan pelacakan kontak erat. Seluruh orang yang sempat berinteraksi langsung dengan pasien telah menjalani pemeriksaan kesehatan untuk memastikan tidak ada penularan lanjutan di masyarakat.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, total kasus superflu di wilayah Jawa Timur mencapai 18 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 kasus ditemukan di Kota Malang, sementara satu kasus lainnya berada di luar wilayah tersebut.

Husnul menjelaskan bahwa temuan kasus berasal dari hasil pemeriksaan pasien dengan gejala influenza like illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo serta severe acute respiratory infection (SARI) di RSUD Saiful Anwar.

Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari surveilans rutin terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan.

“ILI ada gejala batuk, demam, nyeri tenggorokan, nyeri kepala, suhu di atas 38 derajat. Di RSSA (RS Saiful Anwar) itu SARI, jadi gejala sindrom infeksi yang berat,” ujarnya.

Sampel pasien dikumpulkan dalam rentang waktu tiga bulan, yakni September, Oktober, dan November. Selanjutnya, sampel tersebut dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) untuk pemeriksaan lanjutan dan diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi di Jakarta.

Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode whole genome sequencing (WGS) guna memastikan apakah sampel pasien benar terpapar influenza A H3N2 subclaude K atau tidak. Metode ini digunakan untuk mendapatkan kepastian hasil diagnosis secara menyeluruh.

“Desember dan Januari belum dapat informasi,” ucap Husnul.

Meski kasus superflu Malang dinyatakan terkendali, Dinkes Kota Malang tetap melakukan edukasi kepada masyarakat. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kekhawatiran publik, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap upaya pencegahan penyakit menular.

Masyarakat juga diingatkan untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat, seperti menggunakan masker saat sakit, mencuci tangan, vaksinasi, serta memperhatikan asupan gizi harian guna menjaga daya tahan tubuh.

Load More