"Jadi warga tidak perlu lagi ke tempat konservasi lagi warga memetik di gunung. Cukup di sini dan bahkan warga juga mulai sadar untuk menanam di sekitar rumah mereka," kata dia.
Selain itu, wisatawan pun kini juga mulai sadar. Wisatawan yang mendaki ke Semeru ataupun Bromo kini mulai sadar bahwa memetik bunga Edelweiss itu adalah hal yang salah.
"Kan mikirnya dulu kalau pasangan biar abadi dan langgeng metik bunga Edelweiss. Sekarang enggak di sini kami ajari bahwa kalau mau abadi itu bukan memetik tapi menyebarkan benihnya," imbuh Teguh.
Taman Edelweiss sendiri, terbuka bagi siapapun. Untuk masuknya sendiri, cukup murah. Wisatawan cuma perlu merogoh kocek Rp 10 ribu.
"Itu bukan tiket ya tapi untuk voucher. Jadi voucher itu bisa diganti dengan kopi atau teh di kafe," ujar Teguh.
Di tempat wisata itu, wisatawan tidak dibiarkan sendiri saja. Para pengelola akan mendampingi wisatawan.
"Dan akan diberitahu proses pembibitan benih cara merawat hingga jadinya seperti apa. Jadi setidaknya pulang ke sini dapat informasi berguna tidak hanya ke sini," tutur dia.
Teguh juga menuturkan, wisatawan juga bisa membeli souvenir seperti olahan dari bunga Edelweiss.
"Ada boneka ada gantungan kunci dan banyak. Semua bisa dibeli dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu dan hasil keuntungannya ya buat budidaya Bunga Edelweiss ini," tutur dia.
Baca Juga: Tempat Wisata di Probolinggo Ditutup saat Libur Natal dan Tahun Baru 2022, Termasuk Bromo
Keuntungan dari dibentuknya taman wisata itu pun lumayan. Satu bulan, Teguh mampu mendapat keuntungan kotor Rp 50 juta.
"Itu terjadi pada bulan Oktober 2021 kemarin dengan wisatawan kurang lebih 3.392 orang itu yang terbanyak," ujarnya.
Bunga Edelweiss sendiri terdapat tiga jenis yang ditanam di Taman Wisata Bunga Edelweisa, yakni Edelweiss Jawa, Anaphalis Longifolia, dan Anaphalis Viscida.
"Dan yang asli pegunungan sini itu Edelweiss Jawa tidak ada itu di pulau lain saya pernah ke Lombok ke gunungnya itu tidak ada," kata dia.
Keistimewaannya sendiri adalah Bunga Edelweiss ini setelah dipetik tidak akan layu hingga 10 tahun.
Tentunya dengan perawatan yang tepat. Seperti berada di suhu ruangan dan tidak terkena air.
Berita Terkait
-
Tempat Wisata di Probolinggo Ditutup saat Libur Natal dan Tahun Baru 2022, Termasuk Bromo
-
Catat! Buat yang Mau Tahun Baruan di Gunung Bromo, Nanti Bakal Diberlakukan PPKM Level 3
-
Beredar Video Jalaur Wisata Gunung Bromo Ambles, Pemkab Probolinggo Pastikan Hoaks
-
Sebut Video Amblesnya Jalur Wisata Bromo Hoaks, Ini Penjelasan Pemkab Probolinggo
-
Hujan Deras Picu Tanah Longsor di Kawasan Bromo
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
- Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme
- Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil
Pilihan
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
-
Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
Terkini
-
Dedikasi Mantri BRI Dewi Natalia, 15 Tahun Gerakkan Ekonomi Pedagang Lampung
-
Holding UMi 5 Tahun, dari Akses Menuju Kesejahteraan
-
Audiensi Berujung Ricuh: Anggota DPRD Malang Masuk RS Usai Diseruduk Warga
-
Mudahkan Transaksi dan Remitansi PMI, BRImo Taiwan Raih Anugerah Inovasi Indonesia 2026
-
Insiden Kampus UB Malang: Mahasiswa FK Jatuh dari Lantai Enam, Polisi Telusuri Motif