SuaraMalang.id - Sejumlah daerah mengeluarkan kebijakan agar masjid tidak menyiarkan berita duka via pengeras suara. Menurut pandangan psikolog hal itu penting dan wajar saja dilakukan di tengah pandemi Covid-19 ini.
Psikolog, Elok Farida Husnawati mengatakan, penyiaran berita duka tujuan adalah baik supaya dapat saling membantu dan mendoakan. Namun di situasi saat pagebluk ini hal itu telah mengalami pergeseran pandangan.
Ia pun sepakat jika ada beberapa daerah memutuskan kebijakan menyetop penyiaran kabar atau berita duka via toa masjid.
"Tapi apabila memang itu justru membuat stres, sebaiknya distop terlebih dahulu. Namun sebaiknya bagi masyarakat yang mengetahui bahwa ada warga yang meninggal, bisa membantu men-support pihak keluarga dengan tetap mengirimkan doa dan dukungan, mengirimkan buah, mengirimkan sembako, dan lain-lain," jelasnya mengutip dari TIMES Indonesia, Jumat (6/8/2021).
Senada berita duka, warga kian khawatir dengan suara sirine ambulans. Jika hal itu dirasa membuat warga stres, maka alangkah baiknya dihentikan.
"Suara bising memang merupakan stressor (pemicu stres), dan apabila memang di lingkungan tersebut terbukti dengan mendengar suara itu menjadi tambah stres. Ada baiknya suara-suara tersebut dikurangi," katanya.
"Dikurangi bukan di stop. Karena kan tujuannya sirine untuk memberi info supaya kendaraan lain minggir, kalau di jalan kampung yang cukup lengah ya tidak perlu dinyalakan," imbuhnya.
Perlu diketahui, larangan untuk tidak mengumumkan kematian atau berita duka di masjid saat ini sudah dilakukan di beberapa daerah. Salah satunya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, melarang masjid dan musala untuk menyiarkan berita kematian melalui pengeras suara.
Baca Juga: Kronologi Rusuh Toa Masjid Kelapa Dua Serpong, Berakhir Damai
Kata dia, itu untuk menghindari kepanikan warga di tengah pandemi ini.
Larangan itu termaktub dalam Bupati Ngawi nomor 100/07.106/404.011/2021, tentang Imbauan Penyampaian Berita Duka di Lingkungan.
Dimana, surat itu ditujukan kepada camat se-Kabupaten Ngawi, untuk memerintahkan kepala desa menyampaikan hingga tingkat RT.
"Apabila ada warga masyarakat yang meninggal dunia di lingkungannya, mohon tidak diumumkan dengan menggunakan pengeras suara (di masjid, musala, dll) sehingga warga yang sedang sakit dan isolasi mandiri tidak khawatir berlebihan," bunyi salah satu point surat
Kata Bupati, banyak warga merasakan cemas dan stres di tengah makin maraknya berita duka yang disiarkan tersebut. Apalagi dikhawatirkan siaran kematian didengar oleh masyarakat yang menjalani isolasi mandiri.
"Kecemasan, stres dan sebagainya itu lebih memperburuk, dengan alasan itu maka hal-hal yang bisa memicu terkait memperburuk dampak psikologi itu kami antisipasi," ujarnya soal pengumuman kematian di masjid.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Angkut 2.800 Penumpang Tiap Hari, TransJatim Malang Raya Butuh Tambahan Koridor Segera
-
Solusi Payroll Terintegrasi Dari QLola by BRI Untuk Bisnis Modern
-
Sinergi Tanpa APBD: Babak Baru Transformasi Pasar Induk Gadang Malang
-
Lebih dari 8 Ribu Penumpang Padati Terminal Arjosari Malang Saat Idul Adha
-
Pemkot Malang Siapkan Skenario Gabungkan 23 Kampung Tematik Jadi Surga Wisata