Melihat hal tersebut, lanjut Reza, ada kemungkinan supporter lainnya menjadi iri. Mereka juga sama-sama ingin mengutarakan unek-unek yang ada di hatinya.
"(mengungkapkan) Kekecewaan kita, Bukan ingin rasis," imbuhnya.
Ia melihat, saat itu supporter yang turun tersebut seperti diberi kelonggaran oleh petugas keamanan.
Hal itu kemudian mengundang begitu banyak aremania untuk turun ke lapangan, rata-rata dari tribun Utara dan tribun Selatan.
"Dari Utara sama Selatan turun tapi tidak banyak, paling sekitar 2 ribu supporter. Tidak sampai separoh dari total supporter yang hadir sebanyak 42 ribu," ujarnya.
Ia mengatakan, kemungkinan hal itu yang memicu aparat untuk melakukan perlawanan.
Menurut penuturannya, sebelum ada gas air mata, aparat sempat melakukan pemukulan terhadap supporter. Bahkan ia melihat ada supporter yang tergeletak dan terkapar di tengah lapangan.
Melihat hal itu, supporter yang berada di tribun 7-8 turun. Tetapi tidak semua, hanya sebagian.
Menurutnya, itu awal mula peristiwa mencekam itu.
Baca Juga:Dunia Soroti Tragedi Kanjuruhan, Mulai dari Legenda Sepak Bola Pele hingga Paus Fransiskus
Ia menyaksikan sendiri ketika gas air mata dilempar ke arah tribun. Ia juga menyesalkan kenapa gas air mata tidak ditembak ke rumput, melainkan langsung ke tribun.