Wakos Reza Gautama
Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:49 WIB
Tri Rismaharini saat memberikan masukan pada warga pesisir Malang Selatan, guna merawat mangrove dan bisa memanfaatkan GEO Ekonomi. [Suara.com/Dimas Angga]
Baca 10 detik
  • PDI Perjuangan meluncurkan program konservasi berbasis ekonomi ekologi untuk nelayan di Pantai Teluk Asmara, Malang Selatan.
  • Tri Rismaharini dan Andreas Edi Susetyo melatih warga mengolah produk laut, kerajinan tangan, dan wisata bahari.
  • Inisiatif ini bertujuan menyelamatkan ekonomi keluarga nelayan saat musim paceklik dan cuaca buruk melanda pesisir.

SuaraMalang.id - Ketergantungan nelayan pada cuaca kerap menjadi jebakan kemiskinan klasik di kawasan pesisir. Saat ombak ganas mengunci perahu di dermaga, dapur warga terancam berhenti mengepul.

Menjawab dilema ini, sebuah pendekatan anyar diluncurkan di Pantai Teluk Asmara, Malang Selatan yaitu mengubah konservasi lingkungan dari sekadar aksi penanaman pohon menjadi sumber mata pencaharian nyata.

Lewat program Merawat Bumi Pertiwi, PDI Perjuangan memboyong jajaran petingginya, mulai dari Sekjen Hasto Kristiyanto, Ketua Bidang Kebencanaan Tri Rismaharini, hingga anggota Komisi XI DPR RI Andreas Edi Susetyo, turun langsung ke akar rumput.

Mereka membawa konsep ekonomi berbasis ekologi yakni Healthy Mangrove, Stronger Community, dan Blue Carbon Future.

Tujuannya menciptakan bantalan ekonomi bagi keluarga nelayan melalui literasi perdagangan karbon, pengolahan sampah, hingga peningkatan nilai tambah produk laut.

Anggota DPR RI Andreas Edi Susetyo menegaskan, menjaga kelestarian alam hari ini harus memberikan dampak langsung ke dompet masyarakat.

Di Teluk Asmara, anak-anak muda mulai dilatih membaca potensi masa depan, seperti bursa karbon dan menyulap limbah kayu pesisir menjadi kerajinan tangan (handicraft) bernilai jual tinggi untuk mengisi pasar cinderamata hotel. Di sisi lain, para istri nelayan diberdayakan agar menjadi tulang punggung baru keuangan keluarga.

“Konservasi, baik hutan maupun mangrove, punya nilai ekonomi konkret. Saat nelayan terhalang cuaca buruk dan tidak bisa melaut, stabilitas dapur keluarga bisa diselamatkan dari kemampuan ibu-ibu mengolah hasil laut bernilai tambah,” papar Andreas.

Diversifikasi ini diharapkan menghapus tradisi pasrah saat musim paceklik ikan melanda.

Baca Juga: Dari Pesisir Malang Menembus Bursa Karbon Dunia: Hutan Mangrove CMC Siap Menjaring 'Cuan Biru'

Mantan Menteri Sosial sekaligus Wali Kota Surabaya dua periode, Tri Rismaharini, membawa pendekatan pragmatisnya ke lapangan. Risma menekankan bahwa produk warga pesisir tidak boleh selamanya mentok di pasar murah.

Menurut Risma, kualitas desain, ketahanan kemasan, dan higienitas adalah kunci agar olahan hasil laut dan cenderamata warga mampu menembus konsumen kelas menengah ke atas.

"Kita dampingi perajin suvenir agar bisa masuk ke segmen pasar yang lebih tinggi lewat perbaikan desain dan material bahan. Begitu juga olahan makanan laut ibu-ibu nelayan, harus tahan lama dan higienis," tegas Risma.

Tak hanya urusan kriya dan kuliner, Risma juga menyoroti potensi wisata bahari perahu nelayan. Namun, ia memberi catatan keras soal kebersihan.

Perahu bekas angkutan ikan, menurutnya, harus dirombak agar wangi dan nyaman jika ingin disewakan ke pelancong.

“Tidak ada destinasi wisata di mana pun yang berhasil tanpa kebersihan. Kalau bersih, wisatawan datang, jualan laku, semua merasakan uangnya,” cetusnya.

Load More