“Tasha mewarisi kecintaan saya terhadap sepakbola dan pendukung Arema. Sejak kecil, Tasha sudah sering ikut saya melihat pertandingan Arema. Tidak hanya laga home. Saya dan Tasha kerap mengikuti tim Arema jika bertanding ke luar Kota. Ke Jakarta, Magelang sampai ke Bali,” Kenan Athok.
Tasha pun cukup dikenal Aremania dan Aremanita saat lawatan ke Bali. Almarhumah memiliki banyak kawan sesama suporter bola yang fanatik di Bali.
Kini ketiga jasad orang yang dicintainya dimakamkan di Pemakaman desa Wajak, Kabupaten Malang berdampingan.
Meski masih dalam suasana duka, Athok mendesak agar Tragedi Kanjuruhan diusut tuntas dan pelaku penembakan gas air mata harus ditangkap serta diseret ke pengadilan untuk pertanggungjawabkan 131 nyawa yang meninggal dalam peristiwa paling berdarah dalam dunia sepak bola Indonesia.
"Ini bukan kerusuhan suporter bola mas. Ini sudah genosida penembakan gas air mata. Pembunuhan, karena gas air mata efeknya tidak seperti itu. Saya ini berkali-kali terkena gas air mata saat tour away bersama Tasya ketika Areman bertanding ke luar kota," katanya.
Athok mengisahkan, sampai hari ini ia masih menyimpan baju kedua putrinya. Baju itu, terdapat noda membekas pada bau gas air mata yang menurut Athok, menyerupai bau amoniak.
"Baju Tasha dan Nayla masih saya simpan. Ada bekas seperti bau amoniaknya. Kalau jasadnya utuh, tidak ada luka luka. Hanya di dada atas ada luka seperti menghitam. Lalu ada kayak yang terbakar di bagian wajah. Ini pasti bukan gas air mata biasa," tuturnya.
Gas Air Mata
Athok mengemukakan, tembakan gas air mata pernah dialaminya bersama Tasha saat menyaksikan Arema di Magelang. Kala itu, Athok mengemukakan, gas air mata tersebut tidak berakibat fatal.
Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan Tewaskan 131 Orang, Polri Akui Ada Anggota Gunakan Gas Air Mata Kedaluwarsa
"Saat saya dan Tasya ikut ke Magelang. Kami ditembaki gas air mata. Bahkan itu gas saya ambil lagi, saya lempar lagi. Ditembak lagi, saya ambil lagi dan lempar. Itu efeknya tidak seberapa, hanya pedih di mata, setelah itu hilang dan sembuh. Tasya juga kena waktu itu. Tapi tidak berefek fatal," katanya.
Kini Athok turut menyuarakan agar Tragedi Kanjuruhan berdarah ini diusut tuntas. Semua pihak yang berperan dan bersalah dalam tragedi tersebut harus dihukum.
"Saya hanya menuntut kejadian ini diusut tuntas. Saya yakin ini bukan gas air mata biasa. Karena saya sudah sering merasakan tembakan gas air mata. Tapi efeknya tidak seperti ini. Semua yang bersalah, harus dihukum," ucapnya.
Berita Terkait
-
Tragedi Kanjuruhan Tewaskan 131 Orang, Polri Akui Ada Anggota Gunakan Gas Air Mata Kedaluwarsa
-
Ngeri! TGIPF Bongkar Rekaman CCTV Pintu 13 di Kanjuruhan: Orang Berebut Keluar, Tertumpuk dan Meregang Nyawa
-
Ada Gas Air Mata Kedaluwarsa yang Ditembakkan dalam Tragedi Kanjuruhan, Kini Didalami Komnas HAM
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
BRILink Agen Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan, Danantara Perluas Akses Keuangan Masyarakat
-
Danantara Housing Expo 2026, BRI Dorong Kepemilikan Rumah Bagi Masyarakat
-
Kuli Bangunan Pretheli 17 Tower Telekomunikasi di Malang
-
BRI Peduli Dorong Kesehatan Ibu dan Anak melalui Program Desa Brilian 1000 HPK
-
BNPB Kerahkan Helikopter Water Bombing untuk Taklukkan Bara di Gunung Bromo